Menikah di Bulan Dzulhijjah, Tradisi dan Hikmah di Baliknya
- 10 Jun 2026 06:33 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriah. Selain identik dengan ibadah haji dan Idul Adha, bulan ini juga kerap dipilih sebagian masyarakat untuk melangsungkan pernikahan. Tradisi tersebut tidak hanya berakar pada nilai budaya, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Melansir Baznas.go.id pada Selasa 9 Juni 2026, Tradisi Tradisi Menikah di Bulan Dzulhijjah telah berkembang di berbagai daerah Muslim, termasuk di Indonesia. Meskipun tidak berasal dari syariat yang secara khusus menganjurkannya, tradisi ini lahir dari penghormatan masyarakat terhadap bulan yang penuh keberkahan.
Namun perlu dipahami bahwa keyakinan mengenai keberuntungan tertentu tidak boleh sampai mengarah pada anggapan bahwa bulan selain Dzulhijjah kurang baik untuk menikah. Islam mengajarkan bahwa semua bulan adalah ciptaan Allah dan keberkahan sejati berasal dari ketaatan kepada-Nya.
Apakah Ada Larangan Menikah di Bulan Dzulhijjah?
Secara umum, tidak ada larangan dalam Islam untuk melangsungkan akad nikah pada bulan Dzulhijjah. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi seseorang yang sedang melaksanakan ihram dalam ibadah haji atau umrah.
Rasulullah bersabda:
“Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah, menikahkan, dan tidak boleh meminang.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa larangan berlaku bagi orang yang sedang berada dalam keadaan ihram, bukan bagi seluruh umat Islam pada bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, bagi pasangan yang tidak sedang berihram, akad nikah tetap diperbolehkan dan sah menurut syariat.
Hikmah Menikah di Bulan Dzulhijjah
1. Memulai Rumah Tangga pada Bulan yang Mulia
Salah satu hikmah Menikah di Bulan Dzulhijjah adalah kesempatan memulai perjalanan rumah tangga pada waktu yang penuh keberkahan. Momentum ini dapat menjadi pengingat bahwa keluarga yang dibangun harus berlandaskan ketakwaan kepada Allah SWT.
2. Meningkatkan Semangat Ibadah Bersama
Bulan Dzulhijjah identik dengan berbagai amalan saleh seperti puasa sunnah, takbir, dzikir, sedekah, dan kurban. Pasangan yang menikah pada bulan ini dapat memulai kehidupan bersama dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.
3. Mengingat Makna Pengorbanan
Dzulhijjah juga mengajarkan nilai pengorbanan melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Pernikahan yang bahagia membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan dari kedua pasangan.
4. Mempererat Hubungan Keluarga
Momen Iduladha sering kali menjadi waktu berkumpulnya keluarga besar. Jika akad nikah dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, kesempatan silaturahmi dengan kerabat dapat semakin luas dan mempererat hubungan kekeluargaan.
5. Menanamkan Nilai Ketakwaan Sejak Awal Pernikahan
Bulan Dzulhijjah mengingatkan umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pasangan yang menikah pada bulan ini memiliki momentum yang tepat untuk menanamkan visi keluarga yang berorientasi pada ibadah dan ketakwaan.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa tidak ada ketentuan khusus yang mewajibkan atau melarang menikah di bulan tertentu, termasuk Dzulhijjah. Pemilihan waktu pernikahan tetap bersifat fleksibel, selama memenuhi syarat dan rukun nikah sesuai syariat.
Dengan demikian, menikah di bulan Dzulhijjah lebih merupakan pilihan yang sarat makna daripada keharusan. Tradisi ini menjadi salah satu cara umat Muslim mengaitkan momen penting dalam hidup dengan nilai-nilai spiritual yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....