Meta’u’a Binawakili Siompu, Tradisi Ratusan Tahun yang Terus Dijaga

  • 20 Sep 2026 20:38 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Buton Selatan - Tradisi Meta’u’a kembali digelar masyarakat adat Binawakili di Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan. Binawakili merupakan gabungan dari enam desa adat, Desa Biwinapada, Nggulanggula, Wakinamboro, Batuawu, Lapara, dan Tongali.

Tradisi Meta’u’a yang merupakan agenda tahunan menjadi ruang memperkuat identitas, solidaritas, dan kebersamaan masyarakat. Kegiatan dipusatkan di Baruga Binawakili, Desa Nggulanggula, Kecamatan Siompu diawali dengan tari linda kolosal diikuti sekira 200 orang gadis, Sabtu, 20 September 2026.

Ketua Lembaga Adat Binawakili, Pomili Womal, mengatakan Meta’u’a merupakan tradisi yang telah diwariskan masyarakat sejak ratusan tahun lalu, sekira tahun 1357. Tradisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Binawakili.

"Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari dengan berbagai kegiatan budaya. Rangkaian Meta’u’a tidak hanya menjadi momentum syukuran tahunan, tetapi juga ruang mempererat silaturahmi serta menjaga hubungan antarmasyarakat adat," imbuhnya.

Ketua Lembaga Adat Binawakili, Pomili Womal (baju kuning) Saat Memukul Gong Saat Penampilan Tarian Fomaani, Minggu, 20 September 2026 (Foto: RRI)

Salah satu bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah Tari Fomani. Tarian ini dimaknai sebagai simbol kegembiraan dan persahabatan antara masyarakat setempat dengan rombongan pendatang dari Pulau Jawa yang kapalnya pernah bersandar di pesisir Pulau Siompu.

"Tari Fomani sudah terdaftar dan diakui pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan sebagai salah satu tari budaya yang patut dilestarikan. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Siompu sekaligus sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan kebersamaan kepada generasi muda," imbuhnya.

Sementara itu Wakil Bupati Buton Selatan, La Ode Risawal, mengatakan Meta’u’a merupakan bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Siompu yang di dalamnya terdapat nilai penghormatan, solidaritas, komunikasi, gotong royong, dan tanggung jawab bersama.

“Meta’u’a bukan hanya sebuah acara adat, Meta’u’a adalah bagian dari identitas dan jati diri kita,” ujar La Ode Risawal.

Wakil Bupati Buton Selatan, La Ode Risawal Saat Memberikan sambutan di Dampingi Kadis Pariwisata Provinsi Sultra, Ridwan Badallah dan Sekda Busel, La Ode Harwanto, Minggu, 20 September 2026 (Foto: RRI).

Risawal menilai keberadaan tradisi adat menjadi salah satu fondasi sosial dalam pembangunan daerah. Menurnya, pembangunan tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga masyarakat yang bersatu, saling menghormati, dan mampu menjaga nilai-nilai kebersamaan.

"Pemerintah Kabupaten Buton Selatan juga mendorong agar kebudayaan dapat berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Selain menjaga sejarah dan identitas masyarakat, kegiatan budaya juga berpotensi membuka ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat melalui kehadiran warga dan pengunjung," bebernya.

Penampilan Ratusan Penari Linda Saat Tradisi Meta’u’a di Kecamatan Siompu, Minggu, 20 September 2026 (Foto: RRI)

La Ode Risawal mengajak masyarakat dari enam desa dalam wilayah adat Binawakili untuk terus menjaga persatuan, merawat silaturahmi, menghidupkan gotong royong, serta mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.

"Meta’u’a tidak hanya berhenti sebagai tradisi tahunan, tetapi terus menjadi ruang untuk memperkuat jati diri dan kebersamaan masyarakat adat Binawakili sekaligus menjadi bagian dari kekuatan pembangunan Buton Selatan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....