Angkat Tradisi Leluhur Buton, Film KOCIKA Disambut Hangat Mahasiswa Unidayan
- 18 Jun 2026 13:52 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau – Ratusan mahasiswa Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Kota Baubau antusias menyaksikan pemutaran film dokumenter KOCIKA: Astrologi Tradisional Masyarakat Cia-Cia yang digelar di Baruga La Ode Malim, Unidayan, pertengahan Juni 2026.
Tidak hanya menghadirkan pemutaran film, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan diskusi budaya yang menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, mulai dari sutradara film, budayawan Buton, hingga kalangan akademisi.
Sutradara film, Haeruddin, mengungkapkan proses pengerjaan film dokumenter tersebut telah dimulai sejak tahun 2025. Namun, proses produksi dan penayangan baru dapat direalisasikan pada tahun ini setelah dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesiana beberapa bulan lalu.
"Proses pengerjaan film ini sudah dimulai sejak 2025, tetapi pendanaannya baru keluar beberapa bulan lalu sehingga pemutarannya baru bisa terlaksana pada pertengahan Juni 2026," ujar Haeruddin, Kamis 18 Juni 2026.
Menurutnya, Baubau dipilih sebagai lokasi pemutaran perdana karena merupakan daerah tempat produksi film. Setelah pemutaran di Unidayan, film dokumenter ini juga akan diputar di Kota Kendari.
Haeruddin menjelaskan sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Sorawolio, yang mayoritas penduduknya merupakan masyarakat suku Cia-Cia.
Akademisi Unidayan ini mengaku memiliki kedekatan emosional dengan tema yang diangkat dalam film tersebut. Kenangan masa kecil saat tinggal di rumah pamannya yang dikenal sebagai pande Kocika atau ahli Kocika menjadi salah satu inspirasi utama dalam proses kreatif film tersebut.
"Saya teringat saat masih bersekolah di SMP Negeri Sorawolio pada tahun 1991. Saat itu masyarakat masih mempercayai Kocika sebagai pedoman menentukan hari baik, waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, hingga berbagai keputusan penting dalam kehidupan," katanya.
Haeruddin menjelaskan, di wilayah Sorawolio, khususnya Kelurahan Karya Baru, praktik Kocika memiliki keunikan tersendiri. Selain digunakan untuk membaca pertanda waktu dan hari, terdapat pula ritual tertentu yang dilakukan sebagai bentuk solusi terhadap persoalan yang dihadapi seseorang.
"Bhisa Kocika membaca peredaran bulan dan hari untuk mencari waktu yang baik. Dalam perjalanan bulan tidak semua hari dianggap baik, ada juga hari yang dianggap nahas," jelasnya.
Untuk itu Ia berharap film dokumenter tersebut dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih menghargai dan memahami pengetahuan leluhur tanpa harus mempertentangkannya dengan perkembangan teknologi modern.

Sementara itu, Budayawan Buton, La Ode Alirman, mengatakan Kocika merupakan warisan pengetahuan yang telah dikenal masyarakat Buton sejak zaman leluhur. Khususnya bagi masyarakat Cia-Cia, simbol-simbol yang terdapat dalam Kocika diyakini memiliki makna dan pesan tertentu.
Menurutnya, penting bagi generasi muda untuk mengenal budaya dan tradisi daerahnya sendiri agar tidak hanya mengenal budaya luar, tetapi melupakan identitas budaya yang diwariskan leluhurnya.
"Penentuan kapan kita melakukan suatu kegiatan merupakan bagian dari ilmu Kocika. Ilmu ini luar biasa karena menjadi cara membaca peristiwa yang belum terjadi, sekaligus memahami hubungan peristiwa hari ini dengan kejadian di masa lalu," ujarnya.
Alirman pun mengajak generasi muda untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah.
"Generasi saat ini harus menghargai apa yang ada di daerah kita, dan kalau bisa terus dikembangkan," tandasnya.
Pemutaran film dokumenter tersebut mendapat sambutan hangat dari para mahasiswa. Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi berlangsung, di mana sejumlah mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai Kocika, serta upaya pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....