BMKG Baubau Ingatkan Empat Wilayah Kepton Waspada Kekeringan dan Karhut

  • 22 Agt 2026 13:18 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Baubau mengingatkan masyarakat di empat wilayah Kepulauan Buton untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Meteorologi Betoambari Baubau, Adi Istyono, mengatakan kondisi El Nino saat ini telah berkembang menjadi kategori sangat kuat. Kondisi tersebut memperkuat kekeringan yang tengah berlangsung di Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Buton Tengah.

“Monitoring ENSO di wilayah Nino 3.4 pada dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks sebesar +2,77 atau El Nino sangat kuat,” kata Adi Istyono, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kondisi El Nino sangat kuat tersebut diprediksi bertahan hingga awal 2027. Sementara itu, puncak intensitas El Nino diperkirakan terjadi pada periode Agustus hingga Oktober 2026 sebelum berangsur melemah.

Hujan Diprediksi Minim hingga September

BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat nihil di seluruh wilayah Kepulauan Buton hingga akhir Agustus 2026. Curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah, yakni hanya 0–10 milimeter per dasarian, dengan kecenderungan kondisi kering berlanjut hingga akhir September.

Kondisi tersebut diperkuat hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Betoambari. Sepanjang 1–20 Agustus 2026, curah hujan tercatat 0 milimeter, dengan rata-rata penyinaran matahari di atas 90 persen.

Kelembapan udara pada siang hari juga tercatat turun hingga di bawah 35 persen pada sejumlah hari. BMKG menjelaskan, El Nino bukan penyebab datangnya musim kemarau. Musim kemarau tetap terjadi setiap tahun akibat pengaruh monsun. Namun, El Nino memperkuat sifat kering sehingga musim kemarau dapat menjadi lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal.

Dua Kecamatan Masuk Status Awas

Kondisi kekeringan meteorologis kini mulai memasuki level mengkhawatirkan di sejumlah wilayah.

Di Kota Baubau, Kecamatan Bungi telah berstatus Awas. Enam kecamatan lainnya, yakni Batupoaro, Betoambari, Kokalukuna, Lea-Lea, Murhum dan Wolio berstatus Siaga, sementara Sorawolio berstatus Waspada.

Di Buton Tengah, Kecamatan Talaga Raya juga telah berstatus Awas. Lima kecamatan lainnya, yakni Gu, Lakudo, Mawasangka Tengah, Mawasangka Timur dan Sangia Wambulu berstatus Siaga. Kecamatan Mawasangka berada pada status Waspada.

Sementara di Buton Selatan, enam kecamatan yakni Batauga, Batu Atas, Kadatua, Sampolawa, Siompu dan Siompu Barat berstatus Siaga. Lapandewa berstatus Waspada. Adapun di Kabupaten Buton, Kecamatan Siotapina tercatat berstatus Waspada. Dengan demikian, Bungi di Kota Baubau dan Talaga Raya di Buton Tengah menjadi dua kecamatan yang telah mencapai status tertinggi, yakni Awas.

29 Titik Panas Terdeteksi

Kekhawatiran terhadap karhutla juga diperkuat dengan terdeteksinya puluhan titik panas di empat wilayah tersebut.

Berdasarkan pemantauan BMKG Baubau selama 1–20 Agustus 2026, terdapat 29 titik panas, masing-masing lima titik di Kota Baubau, 14 titik di Kabupaten Buton, delapan titik di Buton Selatan, dan dua titik di Buton Tengah.

Dari jumlah tersebut, tiga titik memiliki tingkat kepercayaan rendah dan 26 titik berkategori sedang. Tidak ditemukan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Namun, BMKG mengingatkan masyarakat tidak boleh lengah. Sebab, prediksi tingkat intensitas api kebakaran hutan dan lahan untuk sepekan ke depan di Kota Baubau, Buton, Buton Selatan dan Buton Tengah berada pada kategori sangat tinggi.

Artinya, apabila kebakaran terjadi, api berpotensi sangat sulit dikendalikan dan menyebar dengan cepat.

BMKG Minta Warga Tidak Membakar Lahan.

Adi Istyono menegaskan kondisi kekeringan saat ini sebenarnya telah diprediksi sejak awal musim kemarau. Namun, status Awas di dua kecamatan dan tingginya potensi penyebaran api membutuhkan kewaspadaan lebih dari semua pihak.

“Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak lengah meski belum banyak titik panas berkategori tinggi yang terpantau, karena tingkat kekeringan bahan bakar di lapangan saat ini sudah sangat mendukung penyebaran api yang cepat,” ujarnya.

BMKG Baubau meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, termasuk untuk membersihkan kebun atau ladang. Warga juga diminta berhati-hati terhadap sumber api di area terbuka, seperti puntung rokok dan pembakaran sampah.

Selain itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak mengingat sebagian wilayah telah mengalami kekeringan dengan status Awas. Jika menemukan kebakaran hutan atau lahan, masyarakat diminta segera melapor kepada instansi terkait, seperti Pemadam Kebakaran atau BPBD setempat.

“BMKG Baubau akan terus memperbarui informasi mengenai kondisi kekeringan, titik panas, serta prediksi intensitas api melalui kanal informasi resminya,”tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....