CKG Temukan Beragam Masalah Kesehatan Berdasarkan Usia

  • 17 Jul 2026 15:28 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Kementerian Kesehatan terus menunjukkan manfaat dalam mendeteksi berbagai masalah kesehatan masyarakat sejak dini. Data hasil pemeriksaan selama semester pertama 2026 memperlihatkan pola permasalahan kesehatan yang berbeda pada setiap kelompok usia, sehingga menjadi dasar penyusunan intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.

Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti Program CKG, melampaui target mingguan yang ditetapkan pemerintah. Melansie Kemkes.go.id pada Jumat 17 Juli 2026, dengan dimulainya tahun ajaran baru, Kementerian Kesehatan optimistis jumlah peserta akan terus meningkat dan target 130 juta peserta pada akhir 2026 tetap berada pada jalur pencapaian.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan CKG bukan hanya menjadi program skrining kesehatan terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari berfokus pada pengobatan menjadi pencegahan penyakit melalui deteksi dini.

"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang,"ujar Menkes Budi.

Hasil CKG menunjukkan bahwa pada bayi baru lahir, penyakit jantung bawaan kritis menjadi salah satu kondisi yang paling banyak terdeteksi melalui skrining. Sementara itu, pada anak usia sekolah dasar, masalah kesehatan yang paling dominan adalah karies gigi, diikuti peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.

Memasuki jenjang SMP dan SMA, persoalan kesehatan gigi masih menjadi temuan utama. Namun, mulai muncul peningkatan kasus gangguan kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi, risiko tuberkulosis (TB), tekanan darah tinggi, hingga masalah gizi. Secara umum, lebih dari 40 persen peserta usia sekolah mengalami karies gigi, disusul anemia, peningkatan tekanan darah, penumpukan kotoran telinga, serta gizi lebih dan obesitas. Data tersebut juga menunjukkan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition, yaitu gizi kurang dan gizi lebih yang terjadi secara bersamaan.

Selain melakukan deteksi dini, sejak 2026 Program CKG juga memasuki tahap tatalaksana atau pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Pemerintah menargetkan semakin banyak penderita yang menjalani pengobatan rutin dan berhasil mengendalikan kondisi kesehatannya guna menekan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa data yang dihasilkan dari Program CKG akan menjadi landasan penting dalam menyusun kebijakan kesehatan berbasis usia. Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap layanan kesehatan preventif dapat semakin efektif, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui deteksi dini, pengobatan, dan pendampingan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....