Film Dokumenter KOCIKA Angkat Astrologi Tradisional Masyarakat Cia-Cia

  • 18 Jun 2026 14:20 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID – Film dokumenter KOCIKA: Astrologi Tradisional Masyarakat Cia-Cia resmi diputar perdana di Baruga La Ode Malim, Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan), Baubau, Kamis 18 Juni 2026.

Pemutaran film yang mengangkat warisan pengetahuan tradisional masyarakat Cia-Cia tersebut mendapat sambutan hangat dari kalangan akademisi, budayawan, dan mahasiswa.

Sutradara film, Haeruddin, mengungkapkan proses pengerjaan dokumenter tersebut sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2025. Namun, realisasi produksi hingga penayangan baru dapat dilakukan tahun ini setelah memperoleh dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesiana.

“Proses pengerjaan film ini sudah dimulai sejak 2025, tetapi pendanaannya baru keluar beberapa bulan lalu sehingga pemutarannya baru bisa terlaksana pada pertengahan Juni 2026,” ujar Haeruddin.

Akademisi Unidayan ini menjelaskan, Kota Baubau dipilih sebagai lokasi pemutaran perdana karena menjadi daerah utama proses produksi film. Setelah ditayangkan di Unidayan, dokumenter tersebut juga dijadwalkan diputar di Kota Kendari Juli mendatang untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Sorawolio, yang mayoritas penduduknya merupakan masyarakat suku Cia-Cia. Wilayah ini dikenal masih menyimpan jejak pengetahuan tradisional Kocika yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi Haeruddin, tema yang diangkat dalam film ini memiliki kedekatan emosional. Ia mengenang masa kecilnya yang akrab dengan tradisi Kocika saat tinggal di rumah pamannya yang dikenal sebagai pande Kocika atau ahli Kocika.

“Saya teringat saat masih bersekolah di SMP Negeri Sorawolio pada tahun 1991. Saat itu masyarakat masih mempercayai Kocika sebagai pedoman menentukan hari baik, waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, hingga berbagai keputusan penting dalam kehidupan,” kenangnya.

Menurut Haeruddin, praktik Kocika yang berkembang di Sorawolio memiliki keunikan tersendiri. Selain digunakan untuk membaca pertanda waktu dan hari, terdapat pula ritual tertentu yang dilakukan sebagai upaya mencari solusi atas persoalan yang dihadapi seseorang.

“Bhisa Kocika membaca peredaran bulan dan hari untuk mencari waktu yang baik. Dalam perjalanan bulan tidak semua hari dianggap baik, ada juga hari yang dianggap nahas,” jelasnya.

Melalui film dokumenter tersebut, Haeruddin berharap generasi muda dapat lebih memahami dan menghargai pengetahuan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga, tanpa harus mempertentangkannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Sementara itu, Budayawan Buton, La Ode Alirman, menilai Kocika merupakan warisan pengetahuan yang telah dikenal masyarakat Buton sejak zaman leluhur. Bagi masyarakat Cia-Cia, simbol-simbol dalam Kocika diyakini mengandung makna dan pesan tertentu yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

“Penentuan kapan kita melakukan suatu kegiatan merupakan bagian dari ilmu Kocika. Ilmu ini luar biasa karena menjadi cara membaca peristiwa yang belum terjadi, sekaligus memahami hubungan peristiwa hari ini dengan kejadian di masa lalu,” ujarnya.

Alirman menekankan pentingnya generasi muda mengenal dan mempelajari budaya daerahnya sendiri agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya pengaruh budaya global.

“Generasi saat ini harus menghargai apa yang ada di daerah kita, dan kalau bisa terus dikembangkan,” tandasnya.

Pemutaran perdana film dokumenter KOCIKA juga mendapat respons positif dari mahasiswa yang hadir. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, di mana sejumlah mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai sejarah, makna, serta upaya pelestarian Kocika sebagai kearifan lokal masyarakat Cia-Cia di tengah perkembangan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....