Kebutuhan Kopi di Baubau Besar, Produk Lokal Sulit Terserap

  • 12 Mei 2026 15:43 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Pemerintah didorong untuk membina petani kopi lokal guna memenuhi tingginya permintaan pasar di Kota Baubau. Saat ini, produksi petani belum mampu bersaing karena kualitas biji kopi yang dihasilkan dinilai masih di bawah standar industri.

Salah satu pelaku usaha Coffeeshop di Baubau, Muhammad Syardilan Kube, mengaku belum mampu menyerap hasil kopi lokal secara maksimal. Padahal, kebutuhan kopi untuk operasional kedai cukup besar setiap bulannya.

Owner Coffeeshop Basecamp ini mengatakan, kebutuhan kopi di tempat usahanya mencapai sekitar 50 hingga 60 kilogram per bulan. Dalam sehari, kebutuhan kopi berkisar 2 hingga 3 kilogram.

“Kalau di Basecamp sendiri kurang lebih 50–60 kilo per bulan. Tapi kami pakai kopi blend, campuran arabika dan robusta 50 banding 50 supaya rasanya balance dan bisa dinikmati semua kalangan,” ujarnya.

Potensi pasar kopi lokal di Baubau cukup besar. Dengan jumlah kedai kopi di Baubau telah mencapai lebih dari 10 usaha, dengan rata-rata kebutuhan tiap kedai bisa sekitar 50 kilogram kopi per bulan, maka total kebutuhan kopi bisa mencapai sekitar 500 kilogram per bulan atau sedikitnya 6 ton dalam setahun.

Menurut owner Basecamp, kualitas kopi lokal masih kalah dibanding kopi yang selama ini beredar di pasaran. Minimnya edukasi petani dan pengelolaan lahan disebut menjadi faktor yang memengaruhi hasil produksi.

Syardilan mengaku pernah mencoba kopi hasil olahan petani lokal. Beberapa petani bahkan telah melakukan roasting mandiri menggunakan tungku tanah liat dan kuali. Namun setelah diuji menggunakan mesin espresso, hasilnya belum memenuhi standar penyajian kepada pelanggan.

“Sudah pernah dicoba, tapi setelah dieksekusi di mesin espresso, belum layak untuk kami sajikan ke customer,”ujarnya.

Saat ini, pasokan kopi Coffeeshop Basecamp masih berasal dari Toraja dan diproses melalui roasting di Kendari sebelum digunakan di kedai. Meski begitu, pihak Basecamp mengaku memiliki komitmen untuk mengangkat kopi lokal sebagai produk unggulan jika kualitasnya memenuhi kebutuhan pasar.

“Kalau difasilitasi kopi yang bagus, kami ingin sekali mengangkat kopi lokal jadi signature kami. Tapi petani di sini belum prepare, jadi kami belum bisa menyerap,”katanya.

Pelaku usaha kopi berharap pemerintah mengambil langkah lebih serius melalui edukasi dan pendampingan petani. Menurutnya, perkembangan industri kopi di Baubau harus diimbangi peningkatan kualitas hasil kebun agar mampu memenuhi standar pasar.

“Petani sangat membutuhkan peran pemerintah. Mungkin bisa didatangkan trainer agar mereka diedukasi mengelola kebun sesuai grade kopi yang dibutuhkan pasar,”tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....