Sidak Pasar, Disperindagkop UKM Baubau: Harga Telur Berangsur Stabil
- 25 Mar 2026 18:17 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UKM memastikan harga telur ayam ras mulai berangsur stabil pasca Hari Raya Idulfitri, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga Rp100.000 per rak.
Kepala Dinas Perindagkop UKM Baubau, Suarmawati mengungkapkan, hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan di Pasar Wameo dan Pasar Karya Nugraha pada Rabu pagi, 25 Maret 2026 menunjukkan kondisi stok telur sudah membaik dan harga mulai turun di kisaran Rp70.000 per rak.
Di tingkat distributor, harga telur berada pada kisaran Rp64.000 hingga Rp65.000 per rak, sehingga pedagang di Pasar Wameo menjual dengan harga sekitar Rp70.000. Sementara di Pasar Karya Nugraha, harga masih sedikit lebih tinggi, yakni mencapai Rp74.000 per rak.
“Perbedaan harga ini terjadi karena sebagian pedagang mengambil stok dari tangan kedua, bukan langsung dari distributor,” jelasnya.
Untuk menekan disparitas harga tersebut, pihaknya akan menginisiasi rapat bersama distributor dan para pedagang telur, khususnya di Pasar Karya Nugraha, guna menyamakan harga agar tidak terjadi selisih yang signifikan antar pasar.
Dari sisi ketersediaan, stok telur juga dipastikan terus bertambah. Pada hari ini tercatat sekitar 2.000 rak telur masuk ke Baubau, dan diperkirakan akan disusul tambahan sekitar 5.500 rak pada hari berikutnya.

“Dengan pasokan yang terus masuk, kami optimistis kebutuhan masyarakat Kota Baubau akan terpenuhi dan harga bisa tetap terkendali,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, lonjakan harga telur menjelang Idulfitri disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, tingginya permintaan masyarakat yang tidak sebanding dengan ketersediaan stok dari produsen di wilayah Sulawesi Selatan seperti Bone dan Sidrap.
“Permintaan distributor kita tinggi, namun pasokan dari produsen sangat terbatas karena stok di kandang mereka juga kosong,” ungkapnya.
Faktor kedua adalah kendala distribusi. Kapal pengangkut telur dari Sulawesi Selatan tidak seluruhnya bersandar di Baubau, melainkan sebagian dialihkan ke wilayah Muna. Akibatnya, pedagang harus mengambil stok dari daerah tersebut, sehingga biaya transportasi meningkat dan berdampak pada harga jual.
Sebagai langkah antisipasi ke depan, Dinas Perindagkop UKM Baubau akan terus melakukan pemantauan serta mitigasi terhadap ketersediaan stok dan stabilitas harga bahan pokok.
“Kami optimistis ke depan kondisi ini bisa lebih terkendali dan tidak terulang kembali,” pungkas Suarmawati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....