Kesehatan Pohon: Studi kasus di Kebun Raya Cibodas

  • 23 Des 2025 16:11 WIB
  •  Batam

Monitoring Kesehatan Pohon sebagai Upaya Pelestarian Koleksi Kebun Raya: Studi kasus di Kebun Raya Cibodas

Oleh: Mahmudin, Agus Suhatman, Daseng Ahmad Samsudin, Abidin Ibrahim, Dadang Suherman, Nudin, Ahmad Jaeni Ashari Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN

KBRN, Batam: Kebun Raya, sesuai dengan amanat dari Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2023, menjadi benteng dalam mempertahankan keanekaragaman hayati dari kepunahan. Kebun Raya menyimpan koleksi hidup terutama jenis-jenis tumbuhan sebagai rujukan koleksi yang bernilai tinggi untuk dimanfaatkan potensi dan kegunaan secara berkelanjutan. Kebun Raya memiliki peranan sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ, yang dilakukan di luar habitat alaminya. Koleksi tumbuhan memiliki data yang lengkap, terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola tersebut.

Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu kebun raya tertua di Indonesia setelah Kebun Raya Bogor. Seperti halnya usianya yang kini mencapai 173 tahun, Kebun Raya Cibodas memiliki tumbuhan yang telah berusia tua dan juga termasuk tumbuhan langka atau terancam punah. Koleksi tumbuhan tersebut banyak berasal dari luar negeri maupun tumbuhan asli Indonesia. Beberapa tumbuhan yang berusia tua diantaranya Araucaria bidwillii dan Araucaria cuninghamii dari Australia, maupun jenis rasamala yang telah mendiami di Cibodas sebelum kebun raya ini berdiri. Kebun raya difungsikan sebagai kawasan publik terutama untuk kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Sampai saat ini, koleksi di Kebun Raya Cibodas mencapai12.546 spesimen yang terdiri dari 209 suku, 948 marga, 2.386 jenis. Salah satu cara terpenting untuk menjaga nilai ilmiah koleksi tumbuhan tersebut dengan pemeliharaan koleksi secara rutin dan komprehensif. Salah satunya, pengelolaan koleksi berbasis aspek arborikultur terutama menilai kesehatan pohon diperlukan agar keberadaan jenis pohon koleksi di Kebun Raya dan aman untuk pengunjung dan pekerja yang sering berinteraksi di sekitar koleksi tumbuhan tua.

Sekilas tentang Metode Monitoring Kesehatan Pohon

Penilaian kondisi kesehatan pohon koleksi kebun raya telah dilakukan secara parsial, melalui pendekatan penilaian visual dan menggunakan pengujian dengan teknologi sonic tomograph. Penilaian pohon secara visual digunakan untuk memeriksa kondisi pohon berdasarkan keragaan fisik. Sementara itu, penggunaan teknologi sonic tomograph juga sudah digunakan untuk memeriksa kondisi bagian dalam batang pohon untuk memastikan kondisi kesehatan koleksi pohon.

Secara sederhana, kegiatan kegiatan monitoring kesehatan pohon di Kebun Raya Cibodas meliputi beberapa tahapan:

Monitoring kesehatan pohon secara limited (level 1) dengan cara melihat pohon sekilas seperti sambil berjalan, pandangan pohon hanya satu sisi dan pengamatan terhadap kemungkinan risiko patah atau tumbang. Hasil pengecekan kesehatan pohon level 1 dijadikan sebagai rujukan untuk pengecekan lanjutan (level dua), misalnya adanya kerusakan batang, kemiringan pohon yang tidak normal terutama pohon yang berusia tua dan potensi kerusakan internal yang disebabkan oleh jamur dan pembusukan lainnya.

Monitoring Penilaian risiko pohon (level 2) dilakukan dengan cara pemeriksaan mengetuk pohon 360 derajat menggunakan alat sederhana seperti palu karet lalu dilanjutkan dengan pendekatan visual pohon menggunakan analisis kesehatan individu pohon berbasis variabel - variabel yang digunakan International Society of Arboriculture (ISA) dan Forest Health Monitoring (FHM) dengan mendeskripsikan kondisi visual pohon. Dimana dari hasil analisis penilaian risiko pohon level dua dapat di tentukan mitigasi/penanganan yang harus di lakukan untuk mengurangi resiko kegagalan pohon atau diperlukan pemeriksaan lanjutan ke level tiga.

Penilaian monitoring kesehatan pohon (Level 3) dengan indikator vitalitas dengan mengukur kerusakan pohon. Pengujian kesehatan internal pohon juga akan dilakukan menggunakan alat sonic tomograph yaitu Fakopp Arborsonic 3D Acoustic Tomograph. Data primer yang diperoleh berupa data hasil penilaian kesehatan pohon yang diperoleh dari hasil inspeksi kondisi pohon di lapangan, baik secara visual maupun menggunakan teknologi sonic tomograph. Data sekunder pendukung meliputi data hasil kajian literatur dan data koleksi Kebun Raya Cibodas.

Hasil penilaian kondisi risiko pohon visual pohon dilengkapi dengan data hasil pengujian menggunakan teknologi sonic tomography dengan alat Fakopp Arborsonic 3D Acoustic Tomograph. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kondisi internal batang pohon dari beberapa jenis tanaman. Teknologi ini dianggap efektif untuk mendeteksi kelapukan pohon. Tipe teknologi ini dapat menentukan posisi anomali, menduga ukuran dan bentuk batang pohon. Pemasangan sensor alat dilakukan pada pohon yang diduga mengalami kerusakan di dalam batang. Ketinggian pemasangan alat berbeda-beda, tergantung dari hasil pengamatan awal kejadian kerusakan batang.

Evaluasi kerusakan bagian dalam batang pohon dilakukan dengan alat sonic tomograph pada ketinggian batang 60 dan 130 cm dari permukaan tanah dengan dasar bahwa terjadinya kerusakan pada batang bawah dan untuk konsistensi pengambilan data. Data kecepatan rambatan gelombang bunyi didapat dengan mengetukkan palu khusus pada paku yang telah ditempel metal pin. Ketukan menghasilkan gelombang bunyi yang akan merambat ke dalam batang pohon.

Waktu perambatan gelombang antar titik pengirim ke titik penerima lainnya direkam oleh perangkat lunak yang tersedia di dalam alat. Data kecepatan gelombang bunyi akan digunakan oleh perangkat lunak pada alat tersebut untuk memberikan gambaran kondisi pohon dalam bentuk citra. Alat ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pelapukan kayu yang umumnya tidak terlihat secara kasat mata dari keragaan fisik pohon.

Parameter yang dapat diketahui dari alat sonic tomograph berupa kepadatan kayu dan kerusakan kayu. Area pembusukan dihitung sebagai persentase yang diidentifikasi sebagai lapuk dibagi dengan total luas kayu. Untuk tomogram, area peluruhan dihitung dengan perangkat lunak arborsonic. Tomogram terdiri dari beberapa gradien warna, dimana hijau menunjukkan kondisi baik, kuning berarti proses peluruhan yang sedang berlangsung, merah berarti tingkat peluruhan yang lebih tinggi, biru berarti kondisi berongga. Kegiatan analisis Kesehatan pohon dilakukan secara periodik dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2025.

Gambar Kegiatan monitoring kesehatan pohon (level 3) dan contoh hasil pengujian batang utama dengan menggunakan alat uji sonic tomograph. Dokumentasi tim analisis kesehatan pohon KRC.

Monitoring Kesehatan Pohon antara Manfaat, peluang dan tantangan

Monitoring kesehatan pohon telah lama dilakukan di Kebun Raya Cibodas. Melalui monitoring kesehatan pohon secara berkala dapat membantu menjaga keanekaragaman hayati di Kebun Raya dengan memantau kondisi kesehatan pohon. Hasil dari monitoring kesehatan pohon dapat dijadikan sebagai masukan bagi pengelola untuk menentukan tindakan pencegahan dan pengendalian koleksi tumbuhan yang tepat. Tentu data ini dapat mengurangi risiko bencana, seperti pohon tumbang yang dapat membahayakan pengunjung dan dapat merusak infrastruktur.

Kegiatan monitoring kesehatan pohon berperan penting dalam menjaga kualitas koleksi pohon di Kebun Raya dengan memantau kondisi kesehatan setiap individu dan melakukan tindakan perawatan yang tepat. Kegiatan ini tidak hanya membantu mengoptimalkan pengelolaan dan perawatan pohon secara berkelanjutan, tetapi juga mendukung penelitian dan kegiatan edukasi terkait keanekaragaman hayati serta pengelolaan lingkungan, sehingga fungsi konservasi, ilmiah, dan edukatif Kebun Raya dapat berjalan secara optimal.

Walaupun demikian, kegiatan monitoring kesehatan pohon dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya seperti anggaran, tenaga ahli, dan dukungan teknologi yang memadai, serta keterbatasan data mengenai kondisi kesehatan pohon yang dapat menghambat efektivitas pemantauan. Perubahan iklim turut memengaruhi dinamika kesehatan pohon sehingga menyulitkan proses monitoring, sementara kerusakan lingkungan di sekitar kawasan juga berdampak negatif terhadap kondisi pohon dan menambah kompleksitas dalam upaya pemantauan dan pengelolaannya.

Monitoring kesehatan pohon juga memiliki berbagai peluang untuk dikembangkan, terutama dengan kemajuan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemantauan. Keterlibatan masyarakat berpotensi memperluas cakupan monitoring sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik dalam menjaga kesehatan pohon dan lingkungan. Pengembangan kebijakan yang mendukung kegiatan monitoring juga dapat memperkuat komitmen dan tindakan nyata dalam pelestarian lingkungan, sementara kerja sama antar lembaga menjadi peluang strategis untuk meningkatkan koordinasi, berbagi sumber daya, serta mengoptimalkan hasil monitoring kesehatan pohon secara berkelanjutan.

Rekomendasi Berita