Science Centre Singapura Hadirkan Pameran Dinosaurus Terbesar 2025

  • 27 Nov 2025 08:03 WIB
  •  Batam

KBRN, Batam : Langkah pertama memasuki annexe hall Science Centre Singapura membuat pengunjung seakan kembali ke ratusan juta tahun lalu. Cahaya temaram dan bayangan raksasa yang bergerak pelan memperkenalkan satu pameran paling ambisius yang pernah digelar negara itu “DINOSAURS EXTINCTIONS US” sebuah pameran dinosaurus terbesar Singapura tahun 2025.

Dibuka sejak 11 Oktober 2025, pameran ini adalah perjalanan panjang 400 juta tahun sejarah bumi, disusun dalam dua galeri besar Dinosaurs of Patagonia dan Six Extinctions. Dalam satu ruangan, masa kejayaan dinosaurus hidup kembali di ruangan lain, pengunjung diajak memahami bagaimana lima peristiwa kepunahan massal mengubah wajah planet ini.

Sorotan utama pameran ini jelas jatuh pada sosok besar yang berdiri di tengah ruangan "Patagotitan mayorum" , dinosaurus herbivora raksasa dari Amerika Selatan. Dengan panjang hampir 40 meter dengan berat 60 ton, model ini membuat pengunjung baik anak-anak maupun orang dewasa hanya bisa mendongak sambil menahan napas.

"Besar sekali ya, kita manusia saat ini cuma sebatas betisnya saja kalau berdiri sekarang, ahahaha, " kata seorang pengunjung asal Indonesia bernama Petrus.

Bagi banyak keluarga, inilah pertama kalinya mereka melihat representasi realistis salah satu makhluk terbesar yang pernah berjalan di muka bumi.

Kepala Lee Kong Chian Natural History Museum, Associate Professor Darren Yeo, mengatakan, pameran ini menghadirkan koleksi yang jarang terlihat di Asia Tenggara, lebih dari 33 fosil asli dan sekitar 60 model dinosaurus berukuran sebenarnya. Beberapa spesies terkenal seperti Tyrannosaurus, Giganotosaurus, hingga Brachiosaurus ditampilkan berdampingan dengan spesies Patagonia yang kurang dikenal, tetapi tak kalah imersif.

Bagian Six Extinctions menjadi salah satu galeri favorit pengunjung dewasa. Di sini, pengunjung mempelajari bagaimana lima kepunahan massal dari Letusan Permian hingga Tumbukan Chicxulub mengubah jalannya evolusi. Narasi kemudian bergeser ke “peristiwa kepunahan keenam” yang diyakini sedang berlangsung akibat aktivitas manusia. Pameran ini terasa tak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran lingkungan.

Di antara vitrin kaca yang remang-remang, dua spesimen menonjol dengan label yang mencolok punah secara nasional. Yang pertama adalah tupai raksasa berwarna krem, Ratufa affinis affinis, yang dulunya melompat dari satu kanopi hutan ke lainnya sebelum habitatnya tergerus pembangunan. Di sebelahnya, burung pekakak berkerah rufous, Actenoides concretus, berdiri dalam keheningan yang membeku dengan warna yang tetap menawan.

Pameran ini memang dirancang ramah keluarga, menyediakan layar sentuh, permainan edukatif, hingga zona “cari fosil” mini untuk anak-anak. Mereka bisa menyikat pasir untuk menemukan “tulang dinosaurus” sambil belajar anatomi dasar. Di beberapa area, petugas edukasi memberikan penjelasan langsung tentang ekosistem purba, membuat pengalaman semakin hidup.

Tiket untuk pengunjung internasional dipatok SGD 39.90 untuk dewasa dan SGD 35.90 untuk anakanak. Sedangkan warga Singapura dan pemegang Permanent Residents PR, harganya sedikit lebih murah untuk dewasa dibanderol seharga SGD 29.90 , sementara tiket untuk anak-anak SGD 25.90. Pemegang tiket juga bebas akses ke Science Centre Singapore.

Bagi siapa saja yang pernah memimpikan bertemu dinosaurus ketika kecil, pameran ini adalah cara terbaik untuk mewujudkan mimpi itu, walau hanya untuk satu hari.


Rekomendasi Berita