Kenali Ciri Anak Korban Bullying dan Grooming

  • 30 Jan 2026 11:22 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Psikolog Klinis Infanti Wisnu Wardani mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda bullying dan grooming yang kerap tidak disadari, terutama pada anak dan remaja. Menurutnya, banyak korban yang justru berusaha menutupi kondisi yang dialami sehingga luput dari perhatian orang sekitar.

Infanti menjelaskan, korban bullying umumnya menunjukkan perubahan perilaku seperti cenderung menghindar dan tampak cemas. Namun kecemasan itu sering disembunyikan.

“Kadang muncul gejala psikosomatis, yaitu gangguan fisik yang dipicu pikiran karena terus-menerus memikirkan tekanan yang dialami,” ujarnya saat diwawancara RRI, Kamis 29 Januari 2026.

Baca juga: Langkah Preventif Cegah Bullying Ospek

Selain itu, perubahan pola makan, reaksi emosional berlebihan, hingga barang pribadi yang hilang atau rusak secara tidak wajar juga patut diwaspadai. Sementara pada kasus grooming, tanda yang sering muncul adalah sikap tertutup dan banyak rahasia. Anak menjadi sangat protektif terhadap gawai, panik saat gadget disentuh, hingga menunjukkan perubahan gaya bahasa dan pengetahuan yang tidak sesuai usia.

“Sering juga ada hadiah atau barang yang tidak bisa dijelaskan asal-usulnya,” kata Infanti.

Ia menambahkan, korban grooming kerap menarik diri dari keluarga dan melawan orang tua karena telah mendapat doktrin dari pelaku. Anak dibuat merasa memiliki ikatan khusus sehingga orang lain dianggap tidak perlu tahu.

Baca juga: Ini Peran Orang Tua dalam Mencegah Grooming

Untuk mencegah anak menjadi korban, Infanti menekankan pentingnya membangun resiliensi. Ia menyebut ada empat bekal emosional utama, yakni locus of control atau kendali diri, kemampuan bersikap asertif, regulasi emosi, dan dukungan lingkungan sosial sebagai “buffer”.

“Belajar mengatakan tidak itu penting. Emosi orang lain bukan tanggung jawab kita. Kalau kita menolak lalu orang marah, itu tanggung jawab emosinya ada pada dia,” tegasnya. Menurut Infanti, keberanian menetapkan batasan perlu dilatih agar anak dan remaja lebih terlindungi di era digital.

Rekomendasi Berita