Sejumlah Wilayah di Banten Akan Hadapi Peningkatan Kekeringan Meteorologis

  • 16 Sep 2026 10:41 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Sejumlah wilayah di Provinsi Banten akan menghadapi peningkatan risiko kekeringan meteorologis pada puncak musim kemarau 2026, dengan fokus perhatian pada Banten bagian utara.
  • Indikator kekeringan meteorologis ditentukan berdasarkan parameter lamanya hari tanpa hujan dan peluang curah hujan menurut penjelasan BMKG.
  • Hampir seluruh wilayah Banten diminta untuk tetap waspada terhadap potensi kekurangan air meskipun kondisi paling kritis berada di bagian utara.

RRI.CO.ID, Serang – Sejumlah wilayah di Provinsi Banten mulai menghadapi peningkatan risiko kekeringan meteorologis pada puncak musim kemarau 2026. Kondisi paling perlu mendapat perhatian berada di Banten bagian utara, meski hampir seluruh wilayah Banten tetap diminta waspada terhadap potensi kekurangan air.

Plt. Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi BMKG Wilayah II Tangerang Selatan, Ana Oktavia Setiowati mengatakan, indikator kekeringan meteorologis ditentukan berdasarkan sejumlah parameter. Seperti lamanya hari tanpa hujan dan peluang curah hujan.

“Level awas sendiri ini adalah salah satu kriterianya yang digunakan adalah hari tanpa hujan itu minimal 61 hari. Kemudian perkiraan curah hujannya itu kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang di atas 70 persen,” katanya dalam program Spada bersama RRI Pro 2 Banten, Rabu, 16 September 2026.

Ana menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan suatu wilayah telah mengalami periode tanpa hujan dalam waktu cukup panjang. Namun, menurutnya, wilayah yang sudah berada pada kondisi awas saat ini masih sebagian kecil dan belum mencakup seluruh wilayah Banten.

“Ini mengindikasikan bahwa daerah tersebut itu sudah dua bulan mengalami kekeringan, tidak terjadi sama sekali hujan. Nah, memang untuk saat ini itu ada beberapa daerah sudah awas, tetapi masih sebagian kecil, belum seluruh wilayah Banten,” ujarnya.

Ia menyebut wilayah yang perlu mendapat perhatian meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, sebagian Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Cilegon. Sementara wilayah Pandeglang dan Lebak juga tetap perlu diwaspadai karena potensi kekurangan air dapat terjadi selama kemarau berlangsung.

Menurut Ana, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan minimnya hujan, tetapi juga berimplikasi terhadap ketersediaan sumber air bagi masyarakat dan sektor pertanian. Karena itu, pemantauan dilakukan setiap hari untuk melihat perkembangan kondisi kekeringan di masing-masing wilayah.

BMKG juga mengimbau masyarakat memanfaatkan cadangan air secara bijak selama puncak kemarau. Upaya seperti menampung air hujan menggunakan embung atau toren dinilai dapat membantu menyediakan cadangan air ketika hujan kembali jarang terjadi.

“Jadi memang sudah hampir semua wilayah, tetapi memang kekeringan yang saat ini memasuki kondisi yang lebih meningkat itu di Banten bagian utara,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....