Kekeringan Melanda 48 Desa di Kabupaten Serang
- 20 Agt 2026 07:43 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Kekeringan mulai berdampak terhadap lahan pertanian di Kabupaten Serang, Banten, pada musim kemarau 2026. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang mencatat sedikitnya 12 kecamatan dan 48 desa mengalami kekeringan, terutama pada lahan pertanian yang mengandalkan air hujan.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang, Mochamad Agus, mengatakan sebagian besar wilayah terdampak merupakan sawah tadah hujan yang tidak memiliki sumber air alternatif. Kondisi tersebut membuat petani kesulitan mempertahankan tanaman ketika curah hujan menurun.
“Yang terparah itu memang yang daerah-daerah tadah hujan. Seperti Jawilan, Kopo, Cikande, itu memang yang terparah,” kata Agus dalam program Indonesia Cerdas RRI Pro 1 Banten, Rabu, 19 Agustus 2026.
Agus menjelaskan, dari 12 kecamatan terdampak kekeringan, terdapat sekitar 976 hektare lahan panen yang terdampak dengan kategori ringan, sedang hingga berat. Sementara lahan yang mengalami puso atau gagal panen mencapai sekitar 133 hektare.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena kekeringan berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian. Namun, hingga saat ini dampaknya terhadap ketersediaan pangan dan harga beras masih belum signifikan.
Untuk mengantisipasi kekurangan air, pemerintah memanfaatkan irigasi pompa pada wilayah yang masih memiliki sumber air dari irigasi, sungai maupun rawa. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang telah menyalurkan sekitar 38 pompa yang tersebar di sejumlah wilayah.
Agus mengatakan irigasi pompa diprioritaskan bagi lahan yang masih memiliki sumber air, sementara sawah tadah hujan membutuhkan solusi berbeda seperti pembangunan sumur dalam. Pemerintah daerah saat ini mengusulkan pengeboran sumur dalam kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
“Kalau sawah tadah hujan itu dia butuhnya sumur dalam. Makanya kita yang air pompa ini kita fokuskan di wilayah Serang Utara dan Serang Timur,” ujarnya.
Selain kekeringan, sejumlah lahan juga menghadapi serangan hama, di antaranya wereng dan tikus. Pemerintah melakukan pendampingan melalui penyuluh pertanian, koordinator penyuluh, serta kelompok tani agar penggunaan sumber air dan penanganan lahan dapat dilakukan secara optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....