Abu Erupsi Anak Krakatau Selimuti Wilayah Lebak

  • 08 Sep 2026 08:31 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyebar hingga ke wilayah Kabupaten Lebak. Sebaran abu tersebut bahkan mencapai Rangkasbitung yang berjarak sekitar 97,5 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah wilayah Lebak merasakan dampak dari abu vulkanik. Selain menurunkan kualitas udara, abu halus juga mengotori rumah dan kendaraan milik warga.

Sebaran abu vulkanik juga dikhawatirkan mengganggu kesehatan masyarakat. Abu yang berukuran halus dapat menyebabkan mata perih serta berisiko mengganggu saluran pernapasan apabila terhirup. Pemerintah Kabupaten Lebak mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati menghadapi kondisi tersebut.

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika berada di luar ruangan. Penggunaan masker dinilai penting untuk mengurangi risiko menghirup abu vulkanik yang terbawa ke permukiman.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Sukanta, mengatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau turut dirasakan oleh masyarakat di wilayah Lebak. "Getaran dari erupsi Anak Gunung Krakatau ini juga dirasakan masyarakat Lebak, terutama yang berada di wilayah Lebak Selatan," ujar Sukanta, Senin 7 September 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD Lebak karena aktivitas vulkanik dapat berdampak terhadap masyarakat, terutama warga yang berada di wilayah pesisir. BPBD Lebak meminta masyarakat tidak panik menyikapi adanya abu vulkanik dan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah.

Warga diminta tetap tenang sambil mengikuti informasi resmi dari pemerintah. "Kami meminta warga tetap tenang, tidak panik, serta meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah pesisir," kata Sukanta.

BPBD Lebak juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Koordinasi dilakukan dengan sejumlah instansi terkait untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi gunung tersebut.

Sukanta mengatakan BPBD terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta badan pemantau vulkanologi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diketahui secara berkala.

"BPBD sendiri terus siaga dan berkoordinasi dengan BMKG serta badan pemantau vulkanologi untuk mengetahui perkembangan Anak Gunung Krakatau," ujarnya. Dampak sebaran abu vulkanik juga berpengaruh terhadap kegiatan pendidikan di Kabupaten Lebak.

Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah pada 7 September 2026. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik yang menyelimuti sejumlah wilayah.

Dengan pembelajaran dilakukan dari jarak jauh, aktivitas siswa di luar rumah dapat dikurangi. Abu vulkanik yang terbawa angin diketahui dapat masuk ke lingkungan permukiman.

Kondisi tersebut membuat sejumlah warga harus membersihkan rumah dan kendaraan yang terkena abu. Sukarmi, warga Rangkasbitung, mengaku merasakan langsung dampak dari sebaran abu vulkanik tersebut. Ia mengatakan abu membuat bagian rumahnya menjadi kotor.

"Teras rumah saya sempat menghitam akibat abu vulkanik," kata Sukarmi. Keberadaan abu vulkanik membuat warga harus lebih sering membersihkan bagian rumah yang terkena endapan abu.

Kondisi tersebut juga membuat masyarakat lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah. Selain persoalan kebersihan, keberadaan abu vulkanik menjadi perhatian dari sisi kualitas udara.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak melakukan pemantauan untuk mengetahui kondisi udara setelah terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau. DLH Lebak memasang alat pemantau kualitas udara ambien di wilayah Lebak.

Alat tersebut digunakan untuk menguji dan mengetahui kondisi kualitas udara serta dampak sebaran abu vulkanik terhadap lingkungan. Pemasangan alat pemantau tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi udara di wilayah yang terdampak.

Hasil pemantauan menjadi salah satu bahan untuk menentukan langkah penanganan apabila kualitas udara mengalami penurunan. Pemerintah Kabupaten Lebak kembali mengingatkan masyarakat agar mengikuti informasi resmi dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.

Warga juga diminta menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar ruangan jika kondisi abu meningkat, serta meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir. Hingga saat ini, BPBD Lebak bersama instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pemerintah memastikan kesiapsiagaan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan terhadap masyarakat Kabupaten Lebak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....