Penggunaan Bahasa Daerah di Banten Menurun
- 07 Sep 2026 09:34 WIB
- Banten
Poin Utama
- Penggunaan bahasa daerah di Provinsi Banten mengalami penurunan signifikan, termasuk di kalangan penutur asli bahasa tersebut.
- Kantor Bahasa Provinsi Banten telah melaksanakan pemetaan bahasa dan sastra selama dua tahun terakhir untuk menganalisis tren penggunaan bahasa daerah pada berbagai generasi dan konteks sosial.
- Bahasa daerah dianggap sebagai bagian penting dari identitas kedaerahan yang harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus.
RRI.CO.ID, Serang – Penggunaan bahasa daerah di Provinsi Banten dinilai terus mengalami penurunan, termasuk di kalangan penutur jati. Kondisi tersebut menjadi perhatian Kantor Bahasa Provinsi Banten karena bahasa daerah merupakan bagian dari identitas kedaerahan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Widyabasa Ahli Muda Kantor Bahasa Provinsi Banten, Nur Seha mengatakan, pihaknya dalam dua tahun terakhir melakukan pemetaan bahasa dan sastra untuk melihat penggunaan bahasa daerah di masyarakat. Pemetaan dilakukan dengan melihat penggunaan bahasa oleh generasi muda maupun generasi tua, baik di ruang formal maupun nonformal.
Menurut Nur Seha, hasil pemetaan menunjukkan penggunaan Bahasa Indonesia semakin dominan, bahkan pada masyarakat yang masih tinggal di lingkungan daerah asalnya. Kondisi tersebut salah satunya terjadi karena bahasa daerah tidak lagi digunakan dalam komunikasi antara orang tua dan anak maupun cucu.
“Dampaknya kita akan kehilangan identitas kedaerahan kita. Padahal Indonesia kaya dengan identitas kedaerahan,” ujarnya dalam program Banten Menyapa RRI Pro 1 Banten, Senin, 7 September 2026.
Ia mencontohkan, temuan terhadap warga berusia sekitar 50 hingga 60 tahun yang lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan cucunya. Padahal, warga tersebut tidak banyak bepergian keluar daerah, tidak memiliki media sosial, dan tidak menggunakan telepon seluler. Kondisi itu menunjukkan bahwa pergeseran bahasa dapat terjadi dari lingkungan keluarga.
Kantor Bahasa Provinsi Banten mencatat terdapat tiga bahasa besar yang digunakan masyarakat Banten, yakni bahasa Jawa, Sunda, serta Melayu Betawi. Upaya perlindungan dilakukan melalui berbagai kegiatan, salah satunya Festival Tunas Bahasa Ibu yang memberikan ruang kepada anak-anak untuk menggunakan bahasa daerah melalui kegiatan membaca, menulis aksara, puisi, cerpen, hingga komedi tunggal.
Ia menilai pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, hingga generasi muda. Penggunaan bahasa daerah di rumah menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk memastikan bahasa tersebut tetap diwariskan kepada anak. “Jadi kita tidak anti dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing, tapi bagaimana kita tidak meninggalkan bahasa daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahasa daerah bukan hanya menjadi identitas masyarakat di suatu wilayah, tetapi juga dapat memperkuat ikatan kedaerahan dan menjadi sumber pengayaan kosakata Bahasa Indonesia. Karena itu, masyarakat Banten didorong untuk terus menggunakan, mempelajari, dan mewariskan bahasa serta aksara daerah kepada generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....