Pantau Anak Krakatau, Gubernur Andra Prioritaskan Keselamatan Masyarakat
- 06 Sep 2026 19:23 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Gubernur Banten, Andra Soni memantau langsung perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK), di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, pada Minggu, 6 September 2026. Andra hadir bersama jajaran Pemerintah Provinsi Banten dan pemerintah kabupaten/kota. Pemantauan dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan pemerintah menghadapi potensi dampak aktivitas gunung api.
Andra juga memimpin rapat koordinasi bersama Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati serta jajaran pemerintah daerah. Koordinasi dilakukan untuk memastikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara terpadu.
Berdasarkan pemantauan PVMBG, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini menunjukkan penurunan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti aktivitas erupsi telah berhenti.
“Penurunan aktivitas bukan berarti aktivitasnya akan berhenti. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi, sehingga kita harus terus melakukan pemantauan,” ujar Andra.
Pemprov Banten bersama pemerintah kabupaten/kota dan PVMBG terus memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan mitigasi. Pemerintah daerah juga diminta memastikan kesiapan mitigasi hingga tingkat desa. Kesiapan tersebut mencakup jalur evakuasi dan lokasi pengungsian bagi masyarakat.
Andra mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta memperoleh informasi hanya dari kanal resmi pemerintah dan lembaga berwenang.
Pemerintah terus memastikan informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dapat diterima masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko dan memastikan masyarakat tetap terlindungi. “Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tutur Andra.
Sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat, Pemprov Banten memberikan perhatian terhadap potensi dampak abu vulkanik. Dinas Kesehatan menyiapkan masker untuk didistribusikan ke wilayah prioritas. Sebanyak lima ribu boks masker disiapkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Kepala PVMBG, Rita Susilawati mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau berdasarkan alat pemantauan menunjukkan penurunan. Meski demikian, potensi terjadinya erupsi masih ada sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam.
"Sebaran abu vulkanik sangat bergantung pada arah angin dan dapat berubah setiap hari. Berdasarkan pemantauan pada 6 September, sebaran abu bergerak ke arah barat menuju Selat Sunda dan Samudra Indonesia," ucap dia.
Rita mengingatkan masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Pemantauan terus dilakukan melalui sejumlah stasiun pengamatan dengan dukungan BMKG dan data dari stasiun pengamatan di Australia.
Sejumlah peralatan pemantauan mengalami kerusakan, tetapi stasiun lain masih dapat menunjang pemantauan aktivitas gunung. Pemerintah bersama PVMBG akan terus melakukan pemantauan dan memperkuat mitigasi untuk memastikan keselamatan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....