Keluarga Prasejahtera di Pandeglang Tinggal di Gubuk Reyot

  • 22 Agt 2026 17:13 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang – Sebuah keluarga prasejahtera di Kampung Pabuaran, Kelurahan Babakan Kalanganyar, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, terpaksa bertahan hidup di dalam gubuk reyot selama lima tahun terakhir. Berukuran tiga kali empat meter, bangunan sederhana yang terletak beberapa kilometer dari pusat pemerintahan daerah itu berdiri di tengah keterbatasan ekonomi.

Kondisi fisik bangunan tampak sangat memprihatinkan dengan posisi miring yang hanya disangga sejumlah batang bambu agar tidak roboh. Bagian atap rumah pun telah mengalami kebocoran parah di berbagai sisi, sehingga menimbulkan rasa khawatir bagi penghuninya setiap kali hujan turun disertai angin kencang.

Asmah, ibu rumah tangga yang menghuni bangunan tersebut, mengaku kerap dihantui rasa takut saat cuaca buruk melanda tempat tinggalnya. Meski demikian, ia memilih tetap bertahan di dalam rumah demi menghindari kerepotan bagi orang lain. "Takut kehujanan, rumah pada bocor," ujar Asmah Sabtu 21 Agustus 2026.

Ia menyampaikan keengganannya untuk mengungsi ke tempat lain meskipun kondisi bangunan sudah sangat membahayakan keselamatan keluarganya. Di dalam ruangan sempit tersebut, kelima anak Asmah bersama suami harus berbagi tempat tanpa adanya sekat kamar tidur maupun fasilitas sanitasi yang memadai.

Berbagai perabot rumah tangga tampak berserakan di sudut ruangan akibat ketiadaan lemari penyimpan pakaian yang layak. Selama bertahun-tahun tinggal di lokasi tersebut, keluarga ini mengaku sudah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah kepada pihak berwenang.

Namun, realisasi bantuan fisik hingga kini belum pernah mereka terima secara nyata. "Sudah mengajukan tiga kali, foto-foto doang paling, minta KK sama KTP," kata Asmah menjelaskan kunjungan petugas pendataan sebelumnya.

Ia menyebut bantuan yang sempat diterima sejauh ini sebatas pasokan beras, sementara program perlindungan sosial seperti PKH belum pernah mereka peroleh. Suami Asmah, Kartoni bekerja sebagai buruh tani harian lepas di kebun milik warga sekitar dengan penghasilan yang sangat tidak menentu.

Pendapatan harian berkisar antara Rp25.000 hingga Rp50.000 tersebut dikatakannya seringkali habis terserap untuk kebutuhan pangan pokok keluarga. "Ya kerja di kebun, uangnya habis saja buat beli beras, jajan anak," ujar Kartoni.

Keterbatasan ekonomi yang mendera diakuinya membuat rencana perbaikan rumah impian sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Selain persoalan tempat tinggal, keluarga ini juga harus menghadapi kesulitan akses air bersih untuk kebutuhan sanitasi sehari-hari.

Mereka terpaksa menumpang dari sumur milik warga sekitar dengan kondisi air yang keruh, terlebih di tengah musim kemarau panjang. Di tengah himpitan kemiskinan dan kondisi rumah yang nyaris roboh, Kartoni dan keluarganya hanya menyimpan satu harapan sederhana kepada pemerintah.

Mereka mendambakan tempat tinggal yang aman dan layak bagi tumbuh kembang kelima buah hatinya tanpa harus dibayangi rasa takut tertimpa bangunan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....