Di Tengah Kurikulum Merdeka, Siswa Kota Serang Didorong Terapkan Deep Learning
- 13 Agt 2026 11:10 WIB
- Banten
Poin Utama
- Pembelajaran di Kota Serang beralih dari metode hafalan menuju pendekatan yang mengutamakan pemahaman, penalaran, dan kemampuan mengolah persoalan.
- Deep learning adalah pendekatan pembelajaran bukan kurikulum baru, dengan tiga prinsip utama: berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan.
- Pendekatan ini diterapkan dalam Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa.
RRI.CO.ID, Serang - Cara belajar siswa di Kota Serang mulai bergeser dari pola yang banyak mengandalkan hafalan menuju pembelajaran yang menuntut pemahaman, penalaran, dan kemampuan mengolah persoalan. Pendekatan deep learning kini digunakan dalam proses pembelajaran di tengah penerapan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Serang, Ahmad Nuri mengatakan, deep learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan dalam proses pembelajaran. Ada tiga prinsip yang menjadi bagian dari pendekatan tersebut, yakni berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan.
“Sekarang ini tidak lagi terjebak pada hafalan sesungguhnya, tapi bagaimana dia mengerti tentang persoalan yang dihadapi, bagaimana materi yang dia pelajari itu sesungguhnya. Tujuannya ke arah sana,” kata Ahmad Nuri, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut Nuri, perbedaan pola belajar dulu dan sekarang terlihat dari cara siswa menerima dan memahami materi. Pembelajaran sebelumnya lebih banyak menempatkan hafalan sebagai bagian penting, sedangkan pendekatan saat ini mendorong siswa membangun nalar dari materi yang dipelajari. Siswa tidak hanya menerima penjelasan guru, tetapi diarahkan melihat persoalan, menganalisis, menyaksikan, menceritakan hingga mengomunikasikan hasil pemahamannya.
“Memang ada perubahan signifikan bahwa seluruh di ruang kelas itu dianggap setara merdeka. Tinggal nanti dibangun pada nalar, pada melihat, menganalisa, terus menyaksikan, menceritakan, mengkomunikasikan itu yang sesungguhnya sedang dibangun,” ujarnya.
Nuri mencontohkan pembelajaran matematika. Jika sebelumnya siswa terbiasa menghafal perkalian atau cara tertentu untuk mendapatkan jawaban, kini guru dapat menggunakan metode yang membuat siswa memahami konsep dan menemukan cara penyelesaian yang lebih cepat.
Perubahan tersebut tetap berjalan dalam kerangka Kurikulum Merdeka yang memberikan ruang bagi satuan pendidikan menentukan arah pembelajaran. Pendekatan deep learning digunakan untuk membuat proses belajar lebih bermakna sekaligus memberi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa.
Perubahan pola pembelajaran juga menuntut guru menyesuaikan kemampuan. Guru harus mampu mengikuti perubahan kurikulum, metode mengajar hingga perkembangan pembelajaran berbasis digital.
“Guru adaptif itu guru yang beradaptasi terhadap kurikulum, perubahan pembelajaran, pendekatan pembelajaran, perubahan proses pembelajaran yang digital,” katanya.
Menurutnya, guru yang bertahan pada pola lama tanpa beradaptasi akan kesulitan menemukan pembelajaran yang efektif sesuai kebutuhan siswa.
“Kalau gurunya tidak memiliki adaptif, dia berkungkung pada persoalan yang dulu saja, dia tidak akan pernah menemukan pembelajaran efektif untuk mencerdaskan anak bangsa,” ujarnya.
Nuri berharap perubahan pendekatan tersebut dapat dipahami guru dan siswa sehingga penerapannya di sekolah tidak menimbulkan kebingungan. Penyesuaian dilakukan agar proses belajar tetap berjalan sesuai kebutuhan peserta didik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....