Murid SD Negeri Terus Menyusut, Dindikbud Perluas Penggabungan Sekolah

  • 21 Jul 2026 13:13 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Penyusutan jumlah murid di sejumlah SD Negeri Kota Serang memengaruhi efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan mendorong Dindikbud untuk mengambil langkah penataan sekolah.
  • Kebijakan penggabungan sekolah diterapkan sebagai solusi untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan optimal di tengat penurunan jumlah peserta didik.
  • Kepala Dindikbud Ahmad Nuri mengungkapkan, penurunan jumlah peserta didik paling banyak terjadi di kawasan perkotaan.

RRI.CO.ID, Serang - Penyusutan jumlah murid di sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) mulai memengaruhi efektivitas penyelenggaraan pendidikan di Kota Serang. Kondisi tersebut mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang memperluas penataan sekolah melalui kebijakan penggabungan atau merger agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan optimal.

Kepala Dindikbud Kota Serang, Ahmad Nuri mengatakan, penurunan jumlah peserta didik paling banyak terjadi di kawasan perkotaan. Menurutnya, sebaran sekolah dasar negeri yang selama ini dinilai ideal tidak lagi sebanding dengan jumlah anak usia sekolah.

"Masalah utamanya karena jumlah populasi usia SD di perkotaan saat ini tidak sebanding dengan banyaknya jumlah sekolah dasar yang ada," kata Ahmad Nuri, Selasa, 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan, penataan saat ini dilakukan terhadap SDN 4, SDN 8, dan SDN 16 di kawasan Benggala. Ketiga sekolah tersebut berada dalam satu kawasan dan selama beberapa tahun terakhir terus mengalami penyusutan jumlah murid.

Minat pendaftar pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di masing-masing sekolah juga masih rendah. Bahkan, ada sekolah yang hanya menerima sekitar 10 hingga 20 peserta didik baru. Setelah dikelola dalam satu klaster, jumlah murid di tiga sekolah tersebut mencapai sekitar 375 siswa dari kelas satu hingga kelas enam.

Selain Benggala, Dindikbud juga memetakan SDN Pamarican 1 dan SDN Pamarican 2, SDN Cijawa, serta SDN Penancangan sebagai sekolah yang akan menjadi prioritas penataan berikutnya.

Ahmad mengungkapkan, SDN Penancangan menjadi sekolah dengan kondisi paling memprihatinkan. Sekolah yang berada di kawasan Kemang itu hanya memiliki 75 murid dari kelas satu hingga kelas enam. Setiap rombongan belajar rata-rata hanya diisi tujuh sampai sepuluh siswa.

"Ada kondisi yang cukup miris di kawasan perkotaan. Contohnya di daerah Penancangan, Kemang, ada sekolah yang total muridnya dari kelas satu sampai kelas enam hanya 75 anak. Satu kelas paling hanya diisi 7 sampai 10 siswa," ujarnya.

Menurutnya, jumlah peserta didik yang sangat sedikit membuat proses belajar mengajar kurang efektif. Kondisi itu juga berdampak pada pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang tidak optimal.

Kondisi serupa terjadi di SDN Cijawa yang hanya memiliki sekitar 120 murid. Padahal sekolah tersebut memiliki gedung dua lantai yang representatif.

Ahmad menilai rendahnya jumlah peserta didik dipengaruhi akses menuju sekolah yang terisolasi akibat penutupan pagar dan gerbang kompleks di sekitarnya, sehingga setiap tahun sekolah kesulitan memenuhi kuota rombongan belajar baru. Sementara jumlah murid SDN Pamarican 1 dan SDN Pamarican 2 jika digabungkan hanya berkisar 300 hingga 350 siswa.

Dindikbud mengidentifikasi dua penyebab utama penyusutan murid di kawasan perkotaan. Pertama, banyak sekolah dasar negeri berdiri berdekatan dalam satu wilayah. Kedua, terjadi pergeseran pilihan masyarakat, terutama keluarga kelas menengah, yang lebih banyak menyekolahkan anak ke sekolah swasta, khususnya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).

"Rata-rata masyarakat kelas menengah di perkotaan memilih menyekolahkan anak mereka ke swasta yang punya identitas seperti SDIT. Sementara sekolah negeri akhirnya cenderung hanya menampung anak-anak dari kalangan urban poor," ucapnya.

Menurut Ahmad, kebijakan merger menjadi langkah untuk menyesuaikan jumlah sekolah dengan kebutuhan riil di lapangan. Saat ini jumlah SD negeri di Kota Serang tercatat 219 sekolah setelah sebelumnya berjumlah 221 sekolah. Penataan tersebut diharapkan dapat membentuk rombongan belajar yang lebih ideal, meningkatkan efektivitas pembelajaran, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan tenaga pendidik, sarana pendidikan, dan anggaran operasional sekolah.

"Sekarang ini kami fokus melakukan merger bagi sekolah-sekolah yang kekurangan murid, terutama yang lokasinya berdekatan atau satu lokus," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....