Warga Karundang Tengah Pertahankan Tradisi Tolak Bala Setiap Rebo Wekasan
- 12 Agt 2026 08:42 WIB
- Banten
Poin Utama
- Warga RT 01 dan RT 02 RW 02 Karundang Tengah, Kota Serang, melaksanakan tradisi tolak bala pada Rebo Wekasan dengan rangkaian kegiatan salat, doa bersama, pembagian makanan, dan dudusan air.
- Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah yang dipercaya sebagai waktu istimewa untuk berdoa memohon keselamatan dan terhindar dari musibah.
- Tradisi tolak bala telah diwariskan turun-temurun dari generasi sebelumnya dan rutin dilaksanakan oleh masyarakat setempat setiap tahunnya.
RRI.CO.ID, Serang - Tradisi tolak bala kembali dilaksanakan warga RT 01 dan RT 02 RW 02 Karundang Tengah, Kota Serang, saat Rebo Wekasan sebagai ikhtiar memohon keselamatan dan terhindar dari musibah. Kegiatan berlangsung di Musala Al Hidayah dengan rangkaian salat tolak bala, doa bersama, pembagian makanan, serta dudusan menggunakan air yang telah didoakan.
Rebo Wekasan merupakan hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah. Tradisi tersebut rutin dilakukan warga setiap tahun dan diwariskan dari generasi sebelumnya.
Ketua RT 01, Bian mengatakan, salat tolak bala menjadi bagian awal kegiatan. Salat dilaksanakan empat rakaat dengan dua kali salam. Warga dapat mengikuti secara berjemaah maupun melaksanakannya sendiri di rumah.
| Baca juga: Mumuluk Bareng, Tradisi yang Mengikat |
"Salatnya empat rakaat, dua salam. Kalau salat tidak sendiri, sendiri-sendiri juga boleh. Cuma ada yang memimpin supaya kita mengikuti gerakannya," ujar Bian kepada RRI, Rabu, 12 Agustus 2026.
Bian mengatakan, salat tersebut dimaknai sebagai ikhtiar warga untuk menghindari bala atau musibah. "Katanya Allah itu menurunkan 327 bala. Karena Allah Maha Rahman dan Rahim, kita salat bala itu untuk menghindari bala, musibah, untuk menghindari musibah," katanya.
Dalam pelaksanaan berjemaah, warga mengikuti gerakan dari pemimpin salat, sedangkan bacaan dalam rukun salat dilakukan masing-masing. Warga yang tidak datang ke musala tetap dapat melaksanakan salat secara sendiri di rumah.
Usai salat, warga melanjutkan kegiatan dengan doa bersama. Makanan yang telah disiapkan warga didoakan terlebih dahulu, kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat.
Rangkaian berikutnya berupa dudusan menggunakan air yang telah disiapkan warga. Sebelum digunakan, air tersebut terlebih dahulu didoakan. "Airnya didoakan. Jadi pertama kita berdoa dulu, sebelum dimandiin, sebelum ke sini," kata Bian.
Warga Karundang Tengah, Niah mengatakan, tradisi tersebut telah dilakukan secara turun-temurun. Warga tetap menjalankannya setiap Rebo Wekasan sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan orang tua.
"Tradisi ini setiap tahunnya turun-temurun dari kakek moyang kita. Orang-orang tua kita sudah tua, jadi kita penerusnya. Enggak pernah ditinggalin kalau tiap Rebo Wekasan akhir," ujar Niah.
Menurut Niah, dudusan merupakan bagian dari tradisi tolak bala untuk memohon keselamatan. Warga yang ingin mengikuti kegiatan dapat datang dengan membawa ember untuk mengambil air yang telah disiapkan.
"Yang mau saja. Orang mana pun kalau mau ke sini, pada bawa ember. Intinya minta keselamatan," katanya.
Air yang digunakan dalam dudusan disiapkan bersama bunga. Sebagian bunga dibeli dari pasar dan sebagian lainnya berasal dari lingkungan kampung. Bunga tersebut direndam sejak malam sebelum pelaksanaan. Niah mengatakan, air tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan warga, termasuk diminum dan dibawa untuk kendaraan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....