Tradisi Leuit Badui Jaga Ketahanan Pangan Berkelanjutan
- 06 Jul 2026 21:26 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Masyarakat adat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, terus mempertahankan tradisi bertani padi huma yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Badui, tetapi juga terbukti mampu menjaga ketahanan pangan keluarga sepanjang tahun.
Hasil panen padi huma yang diperoleh setiap tahun disimpan di lumbung tradisional atau leuit sebagai cadangan pangan. Cara tersebut membuat masyarakat Badui memiliki persediaan pangan yang cukup untuk menghadapi musim kemarau, serangan hama, maupun potensi bencana alam.
Tetua Adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, mengatakan hingga saat ini kondisi ketahanan pangan masyarakat Badui tetap aman. Seluruh keluarga Badui memiliki kebiasaan menyimpan gabah hasil panen sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai kemungkinan di masa mendatang.
"Sampai saat ini ketersediaan pangan masyarakat Badui aman dan tidak ada kekhawatiran terhadap kekurangan bahan pangan," kata Jaro Oom, Senin, 6 Juli 2026.
Masyarakat Badui hanya memanen padi huma satu kali dalam setahun. Namun, hasil panen tersebut tidak langsung dijual, melainkan disimpan di dalam leuit sebagai cadangan pangan keluarga.
Tradisi menyimpan gabah di leuit telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat adat Badui. "Setiap selesai panen, gabah kami simpan di leuit sebagai persediaan pangan keluarga untuk menghadapi musim kemarau, bencana alam, maupun serangan hama," ujarnya.
Menurut Jaro Oom, keberadaan ribuan leuit menjadi simbol kemandirian pangan masyarakat Badui. Ia menyebutkan hingga kini masyarakat Badui belum pernah mengalami kerawanan pangan ataupun kelaparan.
"Karena itu, masyarakat Badui hingga kini belum pernah mengalami kerawanan pangan maupun kelaparan," ucapnya.
Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 8.000 leuit yang dimiliki sekitar 4.000 kepala keluarga di wilayah Desa Kanekes. Jumlah penduduk masyarakat Badui sendiri mencapai sekitar 13.309 jiwa.
Apabila setiap leuit rata-rata menyimpan tiga ton gabah, maka total cadangan pangan masyarakat Badui diperkirakan mencapai sekitar 24 ribu ton gabah. "Kami meyakini stok pangan yang tersimpan di leuit mampu menjaga ketahanan pangan keluarga dalam jangka panjang," kata Jaro Oom.
Salah seorang warga Badui, Santa, mengaku memiliki cadangan sekitar tujuh ton gabah hasil panen padi huma yang telah disimpan selama enam tahun. Gabah yang tersimpan tersebut hingga kini belum pernah digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
"Kami masih membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari dan juga menerima bantuan pangan dari Bulog, sehingga gabah yang disimpan di leuit tetap menjadi cadangan keluarga," ujar Santa.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengapresiasi tradisi masyarakat Badui yang mampu menjaga ketahanan pangan secara mandiri. Kebiasaan tidak menjual seluruh hasil panen dan menyimpannya di leuit merupakan contoh pengelolaan cadangan pangan yang patut dipertahankan.
"Kami mengapresiasi masyarakat Badui karena hingga kini ketahanan pangannya tetap terjaga. Tradisi menyimpan gabah di leuit setelah panen menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan," kata Rahmat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....