Kerap Banjir dan Kekeringan, Mahasiswa Unma dan Warga Normalisasi Irigasi
- 28 Jul 2026 18:51 WIB
- Banten
Poin Utama
- Desa Weru, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, mengalami masalah banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau akibat sistem saluran air yang buruk.
- Warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKN Kelompok 19 Universitas Mathla'ul Anwar Banten menormalisasi drainase dan pembangunan saluran irigasi darurat pada 26-28 Juli 2026.
- Gotong royong ini dilakukan memanfaatkan kondisi cuaca yang mendukung untuk memperbaiki infrastruktur air di areal persawahan dan pemukiman.
RRI.CO.ID, Pandeglang - Warga Desa Weru, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, kerap dihadapkan pada dua masalah menahun: kebanjiran saat musim hujan dan kekeringan saban musim kemarau. Buruknya sistem saluran air di areal persawahan dan pemukiman disinyalir jadi pemicu utamanya.
Mumpung cuaca mendukung, warga bersama pemerintah desa dan mahasiswa KKN Kelompok 19 Universitas Mathla’ul Anwar (Unma) Banten, bergotong royong melakukan normalisasi drainase dan membangun saluran irigasi darurat, Minggu–Selasa, 26-28 Juli 2026.
Kepala Desa Weru, Herman Patoni menjelaskan, wilayahnya didominasi hamparan sawah dan dataran rendah. Tanpa sistem irigasi yang tertata, aliran air kerap mampet dan merusak panen.
"Mumpung musim kemarau dan debit air masih ada sedikit, kami normalkan drainase lingkungan. Sekalian kami buatkan saluran irigasi ke persawahan supaya air mengalir lancar," ujar Herman, Selasa, 28 Juli 2026.
Meski begitu, Herman tak menampik pengerjaan irigasi ini belum bisa dibeton secara permanen karena keterbatasan anggaran desa. Karena itu, pengerjaan masih mengandalkan tenaga swadaya dan bantuan ide dari mahasiswa KKN.
Kondisi tersebut dikeluhkan warga setempat, Empud. Ia berharap gerakan swadaya dari tingkat desa ini dilirik oleh pemerintah daerah hingga pusat.
"Harapan kami setelah ada pergerakan dari warga dan mahasiswa ini, pemerintah kabupaten, provinsi, atau pusat bisa turun tangan membangun irigasinya secara permanen," tutur Empud.
Anggota KKN 19 Unma, Muhamad Toha, menyuarakan hal senada. Menurutnya, mahasiswa hanya bisa menyumbang ide dan tenaga selama masa bakti, sementara solusi jangka panjang tetap butuh intervensi anggaran dari pemerintah.
Sementara Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unma, Nana Sutisna, mengapresiasi kebersamaan warga dan mahasiswa. Ia menilai aksi gotong royong ini merupakan bukti nyata penanganan masalah desa secara cepat tanpa harus menunggu proses birokrasi yang panjang.
“Kolaborasi ini, tidak boleh hanya dilakukan secara insidental, tapi harus dilakukan semua kalangan agar persoalan yang dihadapi masyarakat, bisa dengan mudah terselasaikan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....