Mahasiswa Sulap Limbah Plastik di SDN Pabuaran Jadi Tempat Sampah Edukasi

  • 17 Jul 2026 16:02 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Mahasiswa Universitas Primagraha melalui KKM 14 mengubah limbah kemasan air mineral menjadi tempat sampah organik-anorganik di SD Negeri Pabuaran Kota Serang.
  • Program edukasi ini dirancang untuk membiasakan siswa memilah sampah sejak dari sumbernya melalui pembelajaran langsung.

RRI.CO.ID,Serang – Limbah kemasan air mineral disulap menjadi tempat sampah organik dan anorganik dalam kegiatan edukasi pengelolaan sampah di SD Negeri Pabuaran, Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Program yang digagas Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) 14 Universitas Primagraha ini, menjadi salah satu upaya membiasakan siswa memilah sampah sejak dari sumbernya.

Selain memberikan sosialisasi, mahasiswa juga menyerahkan tempat sampah hasil pemanfaatan limbah plastik kepada pihak sekolah. Sarana tersebut digunakan sebagai media pembelajaran agar siswa dapat langsung mempraktikkan pemilahan sampah organik dan anorganik dalam aktivitas sehari-hari.

Wali Kelas VI SD Negeri Pabuaran, Ahmad Syafei mengatakan, kebiasaan memilah sampah masih perlu terus ditanamkan kepada para siswa. Selama ini, sampah sisa makanan dan kemasan plastik kerap tercampur sehingga menyulitkan proses pengelolaan serta menimbulkan bau.

"Kami bersyukur ada sosialisasi sekaligus bantuan tempat sampah organik dan anorganik. Anak-anak bisa belajar langsung membuang sampah sesuai jenisnya sehingga diharapkan menjadi kebiasaan yang terus dilakukan," katanya, Jumat, 17 Juli 2026.

Menurut Ahmad, pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui teori di dalam kelas. Kehadiran fasilitas pendukung membuat siswa lebih mudah memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Perwakilan KKM 14 Kelurahan Pabuaran, Virgiawansach menjelaskan, tempat sampah yang diserahkan kepada sekolah dibuat dari limbah kemasan air mineral yang dimodifikasi menjadi wadah berkapasitas lebih besar.

"Material bekas kami manfaatkan kembali agar memiliki nilai guna. Tempat sampah dibuat lebih tinggi menggunakan jaring sehingga mampu menampung sampah lebih banyak sekaligus memudahkan pemilahan antara sampah organik dan anorganik," ujarnya.

Ia menilai persoalan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi juga dimulai dari kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak pertama kali dibuang. Karena itu, sekolah menjadi lokasi yang tepat untuk menanamkan perilaku tersebut kepada anak-anak.

Virgiawansach berharap, para siswa tidak hanya menerapkan kebiasaan memilah sampah di lingkungan sekolah, tetapi juga membawa kebiasaan itu ke rumah sehingga dapat mengajak keluarga ikut menjaga kebersihan lingkungan.

Kegiatan ini mendukung Program Serang Bersih yang dijalankan Pemerintah Kota Serang sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini melalui kolaborasi antara dunia pendidikan dan mahasiswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....