Potensi Kekeringan Mengintai, Warga Diminta Jaga Cadangan Air Bersih

  • 25 Jun 2026 14:53 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Masyarakat Kota Serang diimbau mulai menghemat penggunaan air bersih dan menjaga cadangan air tanah menyusul meningkatnya potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air, terutama di wilayah yang selama ini kerap mengalami kesulitan air bersih saat curah hujan menurun.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Serang, Rinaldi, mengatakan langkah pengurangan risiko bencana harus dimulai sebelum dampak kekeringan dirasakan masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan air secara bijak dan menyiapkan cadangan air sejak dini.

Menurutnya, masyarakat dapat memanfaatkan tampungan air hujan, membuat sumur resapan maupun biopori untuk membantu menjaga ketersediaan air tanah saat musim kemarau berlangsung. "Cadangan air itu akan sangat dibutuhkan saat kemarau panjang. Karena itu, penghematan penggunaan air dan upaya menjaga ketersediaan air tanah perlu dilakukan sejak sekarang," ujar Rinaldi, Kamis, 25 Juni 2026.

Ia menilai ancaman kekeringan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat. Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang air secara berlebihan dan menjaga daerah resapan dapat membantu mengurangi risiko krisis air bersih.

Rinaldi menjelaskan FPRB dibentuk untuk memperkuat upaya pengurangan risiko bencana di Kota Serang. Forum tersebut berfokus pada langkah-langkah pra-bencana sehingga dampak yang ditimbulkan dapat ditekan ketika bencana terjadi.

"Kita bermain di pra-bencana, bukan saat tanggap darurat. Harapannya ketika terjadi bencana, risiko yang ditimbulkan bisa jauh berkurang," katanya.

Kepala BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, mengatakan potensi kekeringan menjadi salah satu perhatian pada musim kemarau tahun ini. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan BPBD, hampir seluruh wilayah Kecamatan Kasemen berpotensi mengalami kesulitan air bersih apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Selain itu, terdapat satu kelurahan di Kecamatan Taktakan yang juga masuk wilayah rawan terdampak. Menurut Diat, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, relawan, akademisi, dunia usaha, media hingga masyarakat.

"Kekeringan di Kecamatan Kasemen hampir seluruh wilayah. Di Kecamatan Taktakan ada satu kelurahan yang berpotensi terdampak. Kalau duduk bersama, mudah-mudahan bisa sampai pada langkah fisik, baik sumber daya manusia, sumber daya alat maupun pemenuhan infrastruktur yang diperlukan," ujarnya.

Diat menambahkan, penanganan risiko kekeringan tidak cukup dilakukan saat kondisi darurat. Kesiapan sumber daya, sarana pendukung, hingga infrastruktur penyediaan air perlu direncanakan sejak awal agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi ketika terjadi krisis air bersih.

Ketua Pelaksana Harian FPRB Kota Serang, Muhlisin, mengatakan pengurangan risiko bencana bertujuan meminimalkan dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi. Menurutnya, masyarakat yang memahami langkah-langkah mitigasi akan lebih siap menghadapi berbagai kondisi darurat, termasuk kekeringan.

"Kami tidak bisa mencegah bencana terjadi, tetapi risiko akibat bencana bisa dikurangi. Minimal masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi bencana, mampu menolong dirinya sendiri, keluarganya, hingga lingkungan sekitarnya," kata Muhlisin.

Ia menjelaskan FPRB juga akan menjadi wadah untuk menghimpun berbagai persoalan yang ditemukan di masyarakat dan menyampaikannya kepada pemerintah daerah. Ke depan, forum tersebut akan memperkuat bidang advokasi, edukasi, informasi kebencanaan, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kota Serang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....