FKIP Untirta Kembangkan Model TAMASYA-HI untuk Wujudkan Generasi Emas 2045
- 18 Jun 2026 14:21 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Tim Peneliti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melaksanakan kegiatan Need Assessment. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka penelitian “Pengembangan Model TAMASYA-HI sebagai Pondasi Pengasuhan Holistik Integratif 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kependudukan Menuju Generasi Emas 2045”.
Kegiatan berlangsung di Gedung B Lantai 3, Ruang Karakter Jawara, FKIP Untirta, pada Rabu, 17 Juni 2026 dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, akademisi, praktisi pendidikan anak usia dini, serta mitra penelitian. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti, Enggar Utari, bersama mitra penelitian dari BKKBN Provinsi Banten (Kemendukbangga).
“Pelaksanaan need assessment bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan peluang dalam pengembangan model pengasuhan holistik integratif yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dan kependudukan sejak usia dini,” kata Enggar Utari.
Di menjelaskan, model TAMASYA-HI dikembangkan sebagai upaya strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia unggul menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Menurutnya, pengenalan nilai-nilai lingkungan hidup dan kependudukan perlu dilakukan sejak dini.
“Pengenalan lingkungan sejak dini bagi anak-anak penting agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang memiliki kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta mampu beradaptasi dengan dinamika pembangunan berkelanjutan,” ucap Wakil Dekan I FKIP Untirta tersebut.
Kegiatan itu dibarengi dengan Gelar Karya bertajuk “My Earth My Home” yang menampilkan berbagai hasil pembelajaran anak-anak Daycare Bocah Emas Untirta terkait pendidikan lingkungan hidup. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari implementasi awal konsep TAMASYA-HI, yang mana anak-anak diperkenalkan dengan berbagai aktivitas yang menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan dan kesadaran akan pentingnya menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Kepala Laboratorium Daycare Bocah Emas Untirta, Kristina menyampaikan, selama satu semester terakhir anak-anak telah mengikuti berbagai kegiatan pengenalan lingkungan hidup yang dirancang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Gelar karya yang ditampilkan merupakan hasil proses pembelajaran tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperlihatkan capaian anak kepada orang tua dan para pemangku kepentingan.
“Gelar karya ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Daycare Bocah Emas kepada masyarakat, khususnya orang tua, terkait proses pembelajaran yang telah dilaksanakan selama satu semester. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan hidup dapat dikenalkan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan dan bermakna,” ujarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKKBN Provinsi Banten, Yuda Ganda Putra menegaskan, pentingnya pendekatan pengasuhan holistik integratif dalam mendukung pembangunan keluarga berkualitas. Menurutnya, sinergi antara pendidikan, pengasuhan, kesehatan, lingkungan hidup, dan kependudukan menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Penelitian ini memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program Sinergi, yang diberikan kepada Tim Peneliti Untirta. Dukungan tersebut diharapkan dapat menghasilkan model pengasuhan yang inovatif, aplikatif, dan berkelanjutan untuk mendukung pencapaian target pembangunan manusia Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Melalui kegiatan need assessment dan Gelar Karya “My Earth My Home”, Tim Peneliti Untirta bersama mitra berkomitmen untuk membangun ekosistem pengasuhan yang tidak hanya berfokus pada tumbuh kembang anak dalam 1.000 HPK, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan hidup dan kependudukan sebagai bekal penting bagi generasi masa depan Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....