Ketergantungan Kedelai Impor Dorong Kenaikan Harga Tahu di Kota Serang

  • 11 Jun 2026 08:39 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Bahan baku impor masih menjadi andalan utama industri tahu di Kota Serang dan berimbas langsung pada naiknya biaya produksi di tingkat pelaku usaha. Ketergantungan terhadap kedelai dari luar negeri membuat perubahan harga di pasar global cepat terasa hingga ke harga tahu di pasar tradisional.

Pengelola Tahu Rafa Family Production di kawasan Domba, Kota Serang, Maulana, mengatakan seluruh kebutuhan kedelai untuk produksi masih dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat dan Kanada. Kondisi itu membuat pelaku usaha tidak bisa lepas dari fluktuasi harga internasional.

“Masih impor dari Amerika dan Kanada. Bahan bakunya memang dari luar semua,” kata Maulana, Kamis, 11 Juni 2026.

Ia menjelaskan, harga kedelai saat ini berada di kisaran Rp11.200 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp11.000 per kilogram. Kenaikan sekitar Rp100 hingga Rp200 per kilogram tersebut terjadi sejak sebelum Idulfitri dan sempat mengalami beberapa kali perubahan.

Meski terlihat kecil, dampaknya cukup besar karena skala produksi yang digunakan mencapai sekitar satu ton kedelai setiap hari. Bahkan dalam pembelian tertentu, kebutuhan bahan baku bisa mencapai hingga 3,5 ton.

“Kalau per kilo memang naiknya cuma sekitar 100 sampai 200 perak. Tapi kalau dihitung kebutuhan produksi satu ton per hari, tetap terasa,” ujarnya.

Dari jumlah tersebut, proses produksi menghasilkan ratusan papan tahu setiap hari. Dalam satu kali proses pengolahan, satu saringan bahan baku dapat menghasilkan sekitar enam papan tahu, sehingga total produksi harian mencapai ratusan papan tergantung permintaan pasar.

Produk Tahu Rafa Family Production terdiri dari tahu putih dan tahu goreng dengan berbagai ukuran. Dalam hitungan papan, harga saat ini berada di kisaran Rp50 ribu per papan, naik dari sebelumnya Rp45 ribu hingga Rp47 ribu per papan.

Kenaikan tersebut berkisar Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per papan, yang dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku serta operasional seperti minyak goreng dan kemasan plastik. “Sekarang sekitar Rp50 ribu per papan. Sebelumnya Rp45 ribu sampai Rp47 ribu,” kata Maulana.

Meski harga mengalami penyesuaian, Maulana memilih tidak mengurangi ukuran tahu yang diproduksi. Ia menyebut perubahan ukuran berpotensi menimbulkan keluhan dari pelanggan yang sudah terbiasa dengan standar produk. “Kalau ukurannya dikecilin nanti pembeli komplain,” ujarnya.

Tahu Rafa Family Production setiap hari mendistribusikan hasil produksinya ke sejumlah pasar tradisional di Kota dan Kabupaten Serang, di antaranya Pasar Rau, Pasar Ciruas, Pasar Lama, serta beberapa pasar lainnya. Selain pedagang pasar, sejumlah pelaku usaha kuliner juga menjadi pelanggan tetap yang mengambil langsung ke lokasi produksi.

Meski berada di tengah tekanan biaya bahan baku, permintaan pasar masih relatif stabil. Bahkan pada periode tertentu seperti bulan puasa dan meningkatnya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serapan produk cenderung meningkat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi struktur biaya produksi industri tahu di Serang, sekaligus berdampak pada penyesuaian harga jual di tingkat produsen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....