Emas dan Perhiasan Dorong Inflasi Tahunan di Pandeglang
- 06 Mei 2026 12:12 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Komoditas emas dan perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi tahun ke tahun di Kabupaten Pandeglang pada periode April 2026 dengan kenaikan mencapai 40,88 persen. Lonjakan harga logam mulia ini memberikan andil sebesar 0,46 persen terhadap total inflasi year on year yang berada di level 3,07 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang, Achmad Widijanto mengungkapkan, selain emas, komoditas daging ayam ras dan minyak goreng juga masih memberikan tekanan inflasi secara tahunan. Minyak goreng mencatatkan inflasi sebesar 11,92 persen seiring dengan tantangan stabilitas harga minyak sawit mentah.
"Inflasi year on year kita (April 2026) mencapai 3,07 persen. Komoditas paling berpengaruh adalah emas perhiasan dengan kenaikan 40,88 persen dan andil 0,46 persen," kata Widijanto, Rabu, 6 Mei 2026.
Meskipun ada beberapa komoditas yang turun, tekanan dari sektor energi dan perhiasan disebutnya membuat angka inflasi tahunan Pandeglang tetap berada di atas rata-rata provinsi. Menurutnya d ari sebelas kelompok pengeluaran, hampir seluruh sektor mengalami inflasi tahunan kecuali kelompok pakaian dan alas kaki yang justru mengalami deflasi sebesar 2,42 persen.
Dia menekankan tingkat inflasi 3,07 persen ini sebenarnya masih dalam rentang target kendali inflasi nasional. BPS mencatat inflasi Pandeglang saat ini lebih tinggi dibanding Kota Tangerang yang tercatat paling rendah se-Banten di angka 1,54 persen. Perbedaan struktur ekonomi dan ketergantungan pada sektor pertanian disebutnya menjadi alasan mengapa dinamika harga di Pandeglang cenderung lebih fluktuatif.
Faktor eksternal seperti kenaikan harga energi global pun dikatakannya turut memengaruhi komponen biaya produksi dan distribusi barang di daerah. Kenaikan harga LPG nonsubsidi dan BBM nonsubsidi yang terjadi pada April 2026 menurutnya memberikan dampak pada kelompok pengeluaran perumahan dan transportasi.
BPS Pandeglang mencatat inflasi tertinggi secara tahunan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil mencapai 2,12 persen. Kopi bubuk dan sigaret kretek mesin tercatat sebagai komoditas yang konsisten mengalami kenaikan harga dalam dua belas bulan terakhir.
"Dari 11 kelompok pengeluaran, praktis semua sektor mengalami inflasi kecuali kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami deflasi," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....