Jusuf Kalla Ingatkan Risiko Ekonomi Ditengah Ketidakpastian Global
- 11 Jun 2026 06:11 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Dampak perang di berbagai kawasan dunia, beban utang negara, dan kebutuhan evaluasi kebijakan menjadi tiga persoalan utama yang dinilai sedang menekan Indonesia. Mantan Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla mengingatkan ketiga faktor tersebut perlu ditangani secara bersamaan agar tidak menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Pernyataan itu disampaikan Jusuf Kalla saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-23 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Kampus Sindangsari Rabu, 10 Juni 2026. Menurut Jusuf Kalla, kondisi dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang tidak stabil. Konflik terjadi di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah, Eropa, Asia Selatan hingga Afrika.
Selain memicu ketegangan geopolitik, perang juga memberi dampak terhadap ekonomi global. Ia menyebut perang yang terjadi saat ini berbeda dengan konflik pada masa lalu. Kekuatan suatu negara tidak lagi semata ditentukan jumlah pasukan, melainkan kemampuan teknologi yang dimiliki.
Jusuf Kalla mencontohkan Iran yang mampu bertahan menghadapi tekanan negara-negara besar karena memiliki kemampuan teknologi militer yang berkembang dari riset dan penguasaan ilmu pengetahuan. "Perang sekarang bukan lagi soal berapa divisi atau batalion yang dimiliki. Yang menentukan adalah teknologi, roket, drone dan kemampuan riset," katanya.
Menurutnya, konflik yang terus berlangsung berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan distribusi energi dunia. Jika ketegangan meningkat, harga minyak dapat ikut terdorong naik dan berdampak pada perekonomian Indonesia.
Selain faktor global, Jusuf Kalla menyoroti kondisi fiskal nasional yang masih dipengaruhi kewajiban pembayaran utang. Beban tersebut membuat kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran menjadi lebih terbatas.
Ia menyebut tantangan kedua yang dihadapi Indonesia berasal dari konsekuensi kebijakan masa lalu yang menyisakan kewajiban pembayaran utang dalam jumlah besar. "Akibat kebijakan masa lalu yang mempunyai utang besar sehingga kemampuan ekonomi kita menjadi terbatas karena harus membayar kewajiban itu," ujarnya.
Tantangan berikutnya, kata Jusuf Kalla, berasal dari kebijakan yang saat ini dijalankan pemerintah. Sejumlah program dinilai perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara agar pengeluaran tidak melampaui kapasitas fiskal.
Menurutnya, evaluasi kebijakan diperlukan untuk mengurangi dampak tekanan global sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia mencontohkan langkah efisiensi yang mulai dilakukan pemerintah terhadap sejumlah program agar sesuai dengan kemampuan anggaran negara.
Jusuf Kalla menilai persoalan ekonomi yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu dampak sosial yang lebih luas. Tingginya angka pengangguran dan berkurangnya kesempatan kerja berpotensi meningkatkan berbagai tindak kriminalitas di masyarakat.
Ia mencontohkan maraknya kasus pencurian dan kejahatan jalanan yang sering muncul ketika kondisi ekonomi masyarakat mengalami tekanan. "selain memperbaiki pengelolaan anggaran negara, pemerintah juga perlu memperkuat penerimaan negara, meningkatkan produktivitas, dan memperluas kesempatan kerja," ucapnya.
Di sisi lain, Jusuf Kalla menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Ia menilai kemajuan negara-negara besar tidak terlepas dari kekuatan riset yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi.
Ia mencontohkan perkembangan teknologi di Amerika Serikat yang didukung oleh pusat-pusat riset universitas serta ekosistem inovasi yang melahirkan berbagai industri teknologi dunia. "Suatu negara maju selalu diukur dari kemampuan ekonominya. Kemajuan itu dibangun oleh science and technology," katanya.
Jusuf Kalla mengajak perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas serta memperkuat penguasaan teknologi agar Indonesia mampu menghadapi tekanan global dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....