Terancam Putus Sekolah, Kakak Adik di Karundang Menanti Penetapan Sekolah Rakyat

  • 09 Jul 2026 10:01 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Kesempatan Ardi dan Holikul Amin untuk melanjutkan pendidikan kini bergantung pada penetapan peserta Sekolah Rakyat. Dua kakak beradik asal Lingkungan Karundang Kolektor, RT 02 RW 05, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, itu diasuh neneknya setelah ditinggal kedua orang tua mereka dan sempat terancam putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.

Meski telah diusulkan sebagai calon peserta, keduanya masih menunggu hasil verifikasi. Proses tersebut turut dihadapkan pada perbedaan data kependudukan. Holikul Amin tercatat dalam kartu keluarga neneknya yang masuk kategori desil 1, sedangkan Ardi masih tercantum dalam kartu keluarga orang tuanya yang telah berpisah dan berdasarkan data sosial berada pada desil 3. Padahal, salah satu persyaratan calon peserta Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil 1 atau desil 2.

Penata Layanan Operasional sekaligus Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Farhah Syibli, mengatakan Ardi dan Holikul Amin telah menjalani proses penjangkauan sejak Mei 2026. Keduanya telah didata dan diusulkan sebagai calon peserta setelah memenuhi tahapan pendampingan.

"Penjangkauan Sekolah Rakyat sudah berjalan sejak Mei. Ardi dan Holikul Amin sudah kami lakukan penjangkauan, datanya sudah masuk ke aplikasi Setara dan sekarang tinggal menunggu SK penetapan," ujar Farhah kepada RRI, Kamis, 9 Juli 2026.

Menurut Farhah, Bu Wacih telah meminta agar kedua cucunya didaftarkan ke Sekolah Rakyat sejak Februari. Namun, saat itu proses penjaringan belum dibuka sehingga pendataan baru dilakukan ketika program mulai berjalan.

Farhah menjelaskan, kondisi administrasi Ardi berbeda dengan kondisi yang ditemui di lapangan. Meski masih tercatat dalam kartu keluarga orang tuanya, Ardi telah lama tinggal bersama neneknya. Kedua orang tuanya telah berpisah dan hingga kini keberadaannya tidak diketahui. Karena itu, pendamping PKH menyampaikan kondisi riil keluarga sebagai bahan verifikasi dalam proses penetapan.

"Hasil pendataan sudah kami sampaikan sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Saat ini tinggal menunggu hasil verifikasi dan penetapan," katanya.

Hasil pendampingan juga menunjukkan kedua anak tersebut sempat berada dalam kondisi rentan putus sekolah. Ardi hampir menghentikan pendidikannya karena keterbatasan biaya. Berkat dukungan gurunya, ia mampu menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan kini bersiap melanjutkan ke jenjang SMP.

Sementara Holikul Amin yang akan naik ke kelas IV SD juga dinilai memiliki risiko serupa. Pendamping PKH telah berkoordinasi dengan pihak sekolah yang menyampaikan kondisi ekonomi keluarga menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan pendidikan kedua anak tersebut.

"Saya beberapa kali datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah. Informasi yang kami terima sama, kedua anak ini memang rentan putus sekolah. Dalam beberapa bulan terakhir saya juga sudah lebih dari enam kali mengunjungi rumah Bu Wacih untuk melakukan pendampingan," ucap Farhah.

Ia berharap Ardi dan Holikul Amin dapat diterima di Sekolah Rakyat sehingga memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan. "Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Mudah-mudahan mereka bisa diterima," ujarnya.

Di rumah sederhananya yang kondisinya memprihatinkan, Bu Wacih kini mengasuh tiga cucunya seorang diri. Keterbatasan ekonomi membuatnya mengusulkan Ardi dan Holikul Amin mengikuti Sekolah Rakyat.

Satu cucu lainnya tetap tinggal bersamanya. Bu Wacih memilih tidak mendaftarkannya ke Sekolah Rakyat karena ingin tetap memiliki teman di rumah. Di tengah keterbatasan yang ada, ia berusaha membiayai sekolah cucunya tersebut semampunya.

"Saya tidak bisa membiayai sekolah mereka. Harapan saya Ardi dan Holikul Amin diterima di Sekolah Rakyat supaya tetap sekolah, jadi anak pintar, sukses, dan saleh," ujar Bu Wacih.

Ia berharap pendidikan dapat mengubah masa depan kedua cucunya. "Saya ingin mereka jadi orang sukses, jangan seperti neneknya yang hidup serba kekurangan," katanya.

Harapan serupa disampaikan Ardi. Ia mengaku ingin bersekolah di Sekolah Rakyat agar dapat terus belajar tanpa membebani sang nenek. "Saya memilih Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu membiayai sekolah. Saya ingin mendapat teman baru, fasilitasnya bagus, masih banyak yang ingin saya pelajari dari guru-guru. Harapan saya bisa diterima sampai lulus sekolah dan nanti menjadi orang sukses," ujar Ardi.

Kuota Sekolah Rakyat di Kota Serang masih terbatas. Jenjang SD dan SMP masing-masing disiapkan dua rombongan belajar dengan kapasitas 30 siswa setiap rombongan belajar. Tingginya jumlah pendaftar, terutama pada jenjang SMP, membuat proses seleksi administrasi masih berlangsung sebelum penetapan peserta dilakukan pada bulan ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....