Musim Barat Jadi Tantangan Target Produksi Ikan Pandeglang

  • 25 Apr 2026 12:08 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Kondisi cuaca ekstrem yang dikenal dengan sebutan musim barat menjadi tantangan utama bagi Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang dalam mengejar target produksi tahun 2026. Fenomena alam yang melanda perairan Banten ini biasanya terjadi pada bulan September hingga Desember, yang mengakibatkan penurunan frekuensi melaut para nelayan lokal.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang (Diskan), Uun Junandar menekankan pentingnya kewaspadaan nelayan dalam menghadapi masa pancaroba yang sering datang tiba-tiba. Keselamatan jiwa dinilainya menjadi prioritas utama di atas mengejar hasil tangkapan yang melimpah saat kondisi ombak sedang tidak bersahabat.

"Nelayan rata-rata hanya bisa melaut maksimal 8 sampai 10 bulan karena cuaca. Biasanya September sampai Desember mulai masa pancaroba atau musim barat dengan cuaca tidak memungkinkan," ujar Uun, Sabtu 25 April 2026.

Uun menyebut rata-rata waktu efektif bagi nelayan Pandeglang untuk mencari nafkah di laut hanya berkisar antara delapan hingga sepuluh bulan dalam setahun. Hal ini dinilainya akan mengakibatkan kesenjangan suplai ikan pada periode tertentu yang perlu diantisipasi melalui penguatan sektor budidaya. Ikan nila dan lele diposisikan Uun sebagai substitusi protein saat aktivitas penangkapan di laut mengalami penurunan akibat kendala angin barat yang cukup kencang.

Guna mengurangi ketergantungan pada faktor alam, menurutnya pemerintah gencar memberikan bantuan alat tangkap dan mesin kapal yang lebih tangguh di tahun 2025. Harapannya, dengan armada yang lebih mumpuni, nelayan tetap memiliki fleksibilitas lebih baik dalam beroperasi namun tetap memperhatikan imbauan keamanan. Sejauh ini, Uun mengatakan realisasi produksi perikanan tangkap pada 2025 tercatat mencapai 36.672 ton, naik tipis dari capaian tahun sebelumnya yang menunjukkan daya tahan nelayan lokal cukup kuat.

"Kami menghimbau kepada para nelayan ketika cuaca ekstrim untuk tidak memaksakan melaut. Keselamatan dalam penangkapan ikan adalah salah satu program pelatihan yang kami berikan," katanya.

Sinkronisasi data produksi antara Dinas Perikanan dan BPS terus dilakukan Uun untuk mendapatkan gambaran riil dampak cuaca terhadap ekonomi daerah. Pemerintah berharap melalui penguatan sarana pelelangan yang lebih baik, hasil tangkapan yang didapat selama musim produktif dapat disimpan atau diolah lebih lanjut agar harganya tetap terjaga.

Dinas Perikanan berkomitmen untuk terus mendampingi nelayan agar mampu beradaptasi dengan dinamika perubahan iklim yang semakin tidak terduga. Kerja sama antara para nelayan, dan Diskan diharapkannya mampu melahirkan kebijakan perlindungan bagi nelayan yang terdampak musim barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....