Pendekatan Budaya dan Pengetahuan Lokal Penting dalam Kesiapsiagaan Bencana

  • 13 Apr 2026 09:53 WIB
  •  Banten

RRI.CO,ID, Lebak - Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami terus dilakukan melalui pendekatan berbasis budaya dan pengetahuan lokal. Hal ini diwujudkan dalam kegiatan Lokakarya dan Dialog Masyarakat yang merupakan bagian dari program Indigenous School for Disaster Preparedness, yang diselenggarakan di Villa Hejo Kiarapayung, Panggarangan, Kabupaten Lebak, Minggu 12 April 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari siswa SMA, mahasiswa, serta pemuda dari berbagai organisasi dan lembaga di wilayah Bayah dan sekitarnya. Lokakarya ini menjadi ruang belajar bersama lintas generasi untuk menggali kembali pengetahuan lokal sekaligus mengintegrasikannya dengan perspektif ilmiah dalam menghadapi risiko bencana.

Penanggungjawab Kegiatan, Sucia Lisdamara, menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif yang lahir dari proses panjang dan penuh komitmen. Pogram ini berangkat dari amanah sebagai penerima Indigenous Youth Fellowship 2026 yang diselenggarakan oleh Cultural Survival.

“Kesempatan ini bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan kepercayaan untuk membawa suara, pengetahuan, dan kekuatan masyarakat di Bayah ke dalam ruang pembelajaran yang lebih luas,” ujarnya.

Sucia menyampaikan kegiatan ini dirancang sebagai ruang yang menghubungkan pengetahuan leluhur dengan pendekatan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami yang nyata di wilayah Bayah. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal yang mulai tergerus oleh perubahan zaman. “Kegiatan ini hadir sebagai upaya untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal, mendorong pembelajaran lintas generasi, serta memperkuat kapasitas pemuda adat sebagai pelaku utama dalam edukasi kebencanaan,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten, Aep Mulya Hidayat mengatakan pentingnya pemanfaatan golden time dalam situasi darurat. Dalam bencana waktu yang tersedia harus digunakan secara maksimal untuk menyelamatkan diri, terutama saat terjadi tsunami. "Apalagi berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, kata dia bencana merupakan peristiwa yang dapat mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat," ucapnya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Herry Yogaswara menyoroti pentingnya pengetahuan lokal dalam mitigasi bencana. “Alam bukan sumber dari bencana, tidak ada yang namanya bencana alam, yang ada adalah bahaya alam,” katanya.

Ia menegaskan pengetahuan lokal merupakan warisan turun-temurun yang harus dipraktikkan, bukan sekadar diketahui. Konsep Smong sebagai bentuk pengetahuan lokal masyarakat dalam mengenali tanda-tanda tsunami.

Anis Faisal Reza mengatakan perspektif budaya Sunda, bencana dipahami sebagai bagian dari siklus kehidupan (cakramanggilingan). “Dalam tradisi Sunda, bencana atau bebendon terjadi ketika manusia mulai melupakan nilai-nilai peradaban,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif bahwa pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada kekuatan pengetahuan lokal yang telah lama hidup dalam masyarakat. Program Indigenous School for Disaster Preparedness menjadi langkah nyata dalam menghidupkan kembali warisan leluhur sebagai fondasi penting dalam membangun masyarakat Bayah yang tangguh dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....