Merekam Suara Pertanian Banten Kidul, dari Sawah Masuk ke Album Digital
- 04 Agt 2026 15:24 WIB
- Banten
Poin Utama
- Lagu-lagu legendaris pertanian ini makin jarang terdengar di galengan sawah, menunjukkan risiko kehilangan warisan budaya penting bagi masyarakat Banten.
- Tembang pertanian Banten Kidul merupakan rekam jejak pengetahuan lokal tentang musim, keseimbangan alam, dan penghormatan terhadap Nyi Pohaci (dewi padi).
- Tradisi bertutur melalui nyanyian pertanian pelan-pelan terancam senyap akibat berkurangnya jumlah penutur tua dan perubahan zaman.
RRI.CO.ID, Pandeglang - Di balik petak-petak sawah Banten Kidul, lantunan tembang pertanian tak sekadar pelipur lara saat bertanam. Bagi masyarakat setempat, nyanyian itu adalah rekam jejak pengetahuan lokal—tentang musim, keseimbangan alam, hingga penghormatan pada sang dewi padi, Nyi Pohaci.
Sayangnya, tradisi bertutur ini pelan-pelan terancam senyap. Berkurangnya jumlah penutur tua dan perubahan zaman membuat lagu-lagu legendaris ini makin jarang terdengar di galengan sawah.
Melihat ancaman itu, Lembaga Ekosistem Boeatan Tjibalioeng mengambil langkah cepat. Disokong Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, mereka merambah pedalaman Pandeglang hingga Lebak untuk merekam dan mendigitalisasi nyanyian yang tersisa.
Gali arsip dan perekaman lapangan digelar maraton di tiga wilayah adat: Cibaliung (Pandeglang), Kanekes atau Baduy (Lebak), serta Kasepuhan Cisungsang (Lebak). Hasilnya, ada lebih dari 30 lagu pertanian yang berhasil diselamatkan dari kepunahan lisan.
Prosesnya tak cuma merekam suara. Tim juga mengabadikan video, mentranskrip lirik, menerjemahkan bahasa daerah, hingga mencatat konteks kebudayaannya agar maknanya tak hilang ditelan masa.
"Kami tidak ingin lagu-lagu ini cuma dipahami sebagai musik hiburan. Di dalamnya ada sistem pertanian tradisional, relasi manusia dengan alam, hingga nilai spiritual masyarakat Banten Kidul," kata Ketua Lembaga Ekosistem Boeatan Tjibalioeng, Rizal Mahfud, Selasa, 4 Agustus 2026.
Puncak dari gerakan pelestarian ini diwujudkan lewat gelaran eksibisi bertajuk Nyanyian Tubuh-Tubuh Nyi Pohaci sekaligus peluncuran album kompilasi hasil digitalisasi. Acara ini sengaja dihelat di Kantor Urusan Berkarya—sebuah ruang kreatif yang berdiri di tengah kebun di Cibaliung—agar suasananya tetap menyatu dengan alam.
Di lokasi ini, pengunjung nantinya bisa menikmati arsip digital, dokumentasi audiovisual, foto etnografi, hingga menyaksikan langsung penampilan para penutur tua yang datang jauh-jauh dari pelosok Banten Kidul.
Pemilihan nama Nyanyian Tubuh-Tubuh Nyi Pohaci sendiri bukan tanpa alasan. Nama itu memuat makna filosofis tentang menyatunya tubuh manusia, tanaman padi, dan alam sekitar dalam kosmologi masyarakat agraris Sunda.
Rizal menegaskan, digitalisasi ini hanyalah pintu masuk. Kunci utamanya adalah menjaga agar warisan leluhur ini tetap dipelajari oleh generasi muda.
"Kami berharap lagu-lagu pertanian Banten Kidul ini tidak cuma mengendap jadi arsip digital yang pasif, tapi terus hidup jadi bahan belajar, penelitian, dan sumber inspirasi anak-anak muda. Digitalisasi ini ibarat jembatan. Ia menghubungkan ingatan masa lalu dengan upaya kita merawat sastra daerah di masa depan," ujar Rizal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....