Ngabuburead 2026: Ruang Refleksi Luka dan Kesehatan Mental Generasi Muda
- 16 Mar 2026 19:12 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Banten – Diskusi tentang kesehatan mental semakin mendapat perhatian publik, terutama generasi muda. Salah satu ruang refleksi hadir melalui kegiatan rutin di bulan Ramadhan, yaitu NGABUBUREAD 2026, yang diselenggarakan oleh Rumah Konseling Aku Temanmu di Kota Serang, pada Sabtu 14 Maret 2026 lalu.
Kegiatan rutin ini diselenggarakan di bulan Ramadan sebagai bentuk refleksi diri dengan menghadirkan sesi bedah buku dan talkshow bertema “From Pain to Peace: A Ramadhan Healing Journey.” Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga umum yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental.
Program Advisor Rumah Konseling Aku Temanmu, Fita Berliana Akbar mengatakan, kegiatan ini bertujuan dengan menyediakan ruang belajar sekaligus ruang aman bagi generasi muda dalam berbicara mengenai kesehatan mental secara terbuka.
“Ngabuburead menjadi ruang diskusi dan refleksi bersama, agar generasi muda bisa memahami bahwa setiap orang memiliki luka, tetapi luka itu juga bisa menjadi proses untuk bertumbuh,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, panitia menghadirkan seorang penulis berdarah Minangkabau, Setiawan Chogah, berbagi refleksi pengalaman hidup pribadi yang dituangkan melalui dua novel andalannya, yaitu Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka dan sekuelnya Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada.
Setiawan Chogah dikenal sebagai penulis, editor, sekaligus konsultan komunikasi digital. Ia merupakan lulusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan telah menulis sejumlah karya fiksi maupun nonfiksi.
Dalam diskusi ini dimoderatori oleh Program Director sekaligus konselor Aku Temanmu, Muhamad Jutana, Setiawan menjelaskan bahwa kedua bukunya lahir dari refleksi pengalaman hidup serta cerita yang Ia temui dari beberapa orang.
Menurutnya, setiap manusia memiliki luka batin yang berbeda, namun cara memaknainya akan menentukan bagaimana seseorang bertumbuh.
"Luka itu seperti tanah tempat kita menanam sesuatu. Ada yang menanamnya dengan kemarahan atau penyesalan, tetapi ada juga yang menanamnya dengan penerimaan dan kesabaran. Dari situ akan tumbuh pohon yang berbeda,"jelasnya.
Ia juga menambahkan, proses berdamai dengan luka itu tidak berlangsung cepat. Butuh waktu dengan Kesabaran dan keberanian dalam mengenali diri sendiri dan proses penerimaan akan hal yang dialaminya.
"Sabar adalah suara yang paling panjang. Manusia perlu memahami dirinya sendiri dalam proses berdamainya. Ketika seseorang mulai menerima lukanya, di situlah proses penyembuhan bisa dimulai," katanya.
Rumah Konseling Aku Temanmu sendiri berada di bawah naungan Lembaga Dompet Dhuafa Banten dan telah berdiri sejak 2018. Komunitas ini aktif mengkampanyekan pentingnya akan kesehatan mental melalui berbagai program, seperti layanan konseling, diskusi publik dan edukasi di sekolah.
Melalui kegiatan yang diselenggarakan setiap bulan Ramadan ini, Ngabuburead, komunitas tersebut berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda yang berani membicarakan kesehatan mental dan menemukan ruang aman untuk belajar serta bertumbuh bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....