Lebih dari 50 Persen Stunting akibat Nikah Muda
- 04 Mar 2026 04:08 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Pernikahan usia muda memberikan kontribusi besar terhadap tingginya angka stunting di Kabupaten Lebak. Berdasarkan hasil audit kasus stunting yang dilakukan pemerintah daerah, lebih dari 50 persen anak stunting berasal dari keluarga yang menikah sebelum usia layak.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AP2KB Kabupaten Lebak, Tuti Nurasiah, mengatakan temuan tersebut menjadi peringatan serius bahwa pencegahan stunting tidak bisa dilepaskan dari upaya menekan pernikahan anak. “Lebih dari 50 persen anak stunting berasal dari keluarga yang menikah sebelum usia layak. Ini memberi dampak yang signifikan,” ujarnya dalam dialog Kentongan RRI Pro 1 Banten, Selasa, 3 Maret 2026
Ia menjelaskan, usia layak menikah berdasarkan rekomendasi program kependudukan adalah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Pada usia tersebut, kesiapan fisik, mental, dan sosial dinilai lebih matang untuk membangun keluarga.
Menurut Tuti, kehamilan pada usia remaja berisiko tinggi menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satu dampak yang kerap terjadi adalah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kondisi ini menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya stunting.
“Ketika hamil di usia muda, sangat berpeluang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Dari kasus BBLR itu, sekitar 20 persen berpotensi menjadi stunting,” katanya.
Ia menegaskan, stunting merupakan persoalan multidimensi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari gizi, sanitasi, pola asuh, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Namun, pernikahan usia muda menjadi salah satu pintu masuk yang memperbesar risiko tersebut.
Selain aspek kesehatan, ketidaksiapan ekonomi pasangan muda juga berdampak pada kualitas pemenuhan gizi anak. Keluarga yang belum stabil secara finansial cenderung kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi, layanan kesehatan, serta lingkungan yang layak bagi tumbuh kembang anak.
“Stunting itu identik dengan ketahanan keluarga. Kalau keluarga belum siap dan belum kuat secara ekonomi maupun mental, maka risiko stunting semakin besar,” ujarnya.
Untuk menekan angka tersebut, pemerintah daerah terus memperkuat program pendewasaan usia perkawinan, edukasi kesehatan reproduksi, serta intervensi gizi dan sanitasi berbasis keluarga. Tuti berharap kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat dapat mempercepat penurunan stunting di Lebak sekaligus melahirkan keluarga yang berkualitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....