Program Revitalisasi Bahasa Daerah Sasar Pelajar Banten
- 20 Feb 2026 21:14 WIB
- Banten
Serang, RRI.CO.ID — Kantor Bahasa Provinsi Banten menggencarkan program revitalisasi bahasa daerah melalui jalur pendidikan untuk mencegah kepunahan bahasa ibu. Program tersebut menyasar pelajar tingkat SD dan SMP sebagai generasi penerus yang dinilai paling menentukan keberlanjutan bahasa daerah di masa depan. Pendekatan dilakukan melalui pembelajaran kreatif agar bahasa daerah tidak lagi dianggap kuno atau membosankan oleh anak muda.
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Defyanti Asmalasari, mengatakan pelestarian bahasa harus dimulai sejak usia dini. Sekolah dipilih karena menjadi tempat strategis membangun kebiasaan berbahasa sekaligus memperkenalkan nilai budaya lokal. “Anak-anak perlu dikenalkan bahasa daerah sejak awal agar mereka memahami identitas budayanya,” ujarnya saat Talkshow Sore Ceria bersama RRI Pro 2 Banten, Kamis,19 Februari 2026.
Program revitalisasi dilaksanakan melalui tujuh modul pembelajaran, yaitu bercerita, membaca puisi, pidato, menyanyi lagu daerah, menulis cerpen, membaca aksara daerah, serta komedi tunggal. Siswa diberikan kebebasan memilih materi sesuai minat agar proses belajar terasa menyenangkan. Metode ini diharapkan mengubah cara pandang bahwa belajar bahasa daerah bukan sekadar hafalan, melainkan kegiatan kreatif.
Sebagai bentuk apresiasi, peserta program mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu yang diselenggarakan berjenjang dari tingkat kabupaten hingga nasional. Melalui festival tersebut, pelajar menampilkan kemampuan berbahasa daerah di depan publik. Kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan bakat serta memperkuat kebanggaan terhadap bahasa lokal.
Selain di sekolah, pelestarian bahasa juga diarahkan ke ruang digital. Generasi muda diminta aktif membuat konten berbahasa daerah di media sosial agar bahasa tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Defyanti, penggunaan bahasa daerah dalam konten kreatif mampu menjangkau audiens luas sekaligus menjaga eksistensinya di era modern.
Ia menegaskan keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi dukungan keluarga dan masyarakat. Orang tua diharapkan kembali menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi rumah tangga. “Bahasa daerah akan bertahan kalau dituturkan. Kuncinya diwariskan dari keluarga ke generasi berikutnya,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....