Penderita HIV di Kota Serang Capai 485 Orang

  • 10 Okt 2025 01:21 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Kasus HIV di Kota Serang melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu. Hingga Agustus 2025 tercatat 485 orang positif, naik signifikan dari 187 kasus pada 2024.

Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Serang, Usep Khudory, mengatakan peningkatan ini merupakan dampak dari gencarnya pemeriksaan dan penelusuran kasus di sejumlah fasilitas kesehatan. “Dari total kasus baru tahun ini, 114 orang ditemukan positif, dan 71 di antaranya sudah menjalani pengobatan antiretroviral (ART),” ucapnya, Jumat (10/10/2025).

Baca juga: Realisasi Pajak Kota Serang Tembus Rp239 Miliar

Berdasarkan data Dinkes, kasus baru paling banyak ditemukan di RSUD Banten sebanyak 59 orang, disusul Puskesmas Singandaru 24 orang, dan Puskesmas Serang Kota 12 orang. Sementara di fasilitas kesehatan lain seperti RS Bhayangkara, RS Sari Asih, dan Puskesmas Rau jumlahnya relatif kecil.

Usep menjelaskan sebagian penderita enggan terbuka atau menolak melanjutkan pengobatan. “Ada yang berhenti karena efek samping obat, ada juga yang pindah domisili tanpa melapor, sehingga tidak bisa dipantau lagi,” kata dia.

Sejak 2018 hingga 2025, tercatat 122 orang meninggal dunia akibat HIV/AIDS, sebagian besar karena tidak melanjutkan terapi ARV. Menurut Usep, pengobatan ini wajib dijalani seumur hidup agar daya tahan tubuh pasien tetap stabil.

“Efek samping obat memang berbeda-beda. Ada yang mual, pusing, bahkan batuk, tapi pengobatan tidak boleh berhenti. Kalau putus, virus akan aktif lagi dan bisa memicu komplikasi,” katanya.

Baca juga: Pemkot Serang Putus Kerja Sama Pengelolaan PIR

Ia menambahkan, pola penularan di Kota Serang masih didominasi oleh hubungan seksual berisiko tinggi, sementara kasus akibat jarum suntik tergolong rendah. Untuk menekan penularan, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan organisasi pendamping dalam memberikan edukasi serta mendampingi pasien agar tidak putus pengobatan.

“Kesadaran diri dan dukungan lingkungan jadi kunci. Dengan pengobatan teratur, penderita HIV tetap bisa hidup sehat dan produktif,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....