Hoarding Disorder, Penyakit Mental yang Kerap Diabaikan
- 09 Agt 2024 15:28 WIB
- Banten
KBRN, Serang: Beberapa waktu lalu, sempat viral di media sosial terkait dengan kondisi kamar kos di Bekasi yang tampak penuh dengan sampah dan barang berserakan. Ada warganet yang mengatakan bahwa bisa jadi penghuni kos tersebut terkena gangguan hording disorder. Lantas apakah sebenarnya yang dimaksud dengan hoarding disorder?
Kepada RRI seorang psikolog klinis asal Kota Serang, Infanti Wisnu Wardani, memberikan penjelasan mengenai hording disorder, sebuah gangguan kesehatan mental yang sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Menurut Infanti, hording disorder merupakan perilaku impulsif di mana seseorang merasakan kebutuhan yang kuat untuk menyimpan barang-barang, meskipun barang tersebut tidak memiliki nilai. "Penderita Hording Disorder merasa sangat tertekan ketika diminta untuk membuang barang-barang yang mereka kumpulkan, meskipun sebenarnya mereka tidak membutuhkannya," ujar Infanti.
Barang-barang yang biasa ditimbun oleh penderita hording disorder bervariasi, mulai dari koran, majalah, barang-barang rumah tangga, hingga pakaian dan pernak-pernik lainnya. Infanti menekankan bahwa penumpukan barang-barang tersebut dapat memicu bahaya, termasuk memburuknya kondisi kesehatan fisik. "Kualitas hidup mereka bisa memburuk karena keberadaan barang-barang tak terpakai yang menumpuk, yang seharusnya bisa dibuang," katanya.
Lebih lanjut, Infanti menjelaskan bahwa penyebab dari hording disorder ini kompleks dan belum dapat dipastikan secara spesifik. Faktor genetik, tekanan stres, trauma, gangguan fungsi otak, cedera otak, serta kebiasaan membeli secara impulsif bisa menjadi pemicu. "Misalnya, trauma kehilangan membuat seseorang mempertahankan apa yang dimilikinya, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak lagi terpakai," ucapnya.
Infanti juga menambahkan bahwa pengaruh obat-obatan, alkohol, atau berada di bawah tekanan impulsif untuk membeli sesuatu dapat memperburuk kondisi ini. "Seseorang mungkin membeli barang hanya karena dorongan sesaat, dan meskipun tidak pernah digunakan, mereka tetap menyimpannya," ucapnya.
Gangguan ini, menurut Infanti, tidak hanya mempengaruhi penderitanya secara individu tetapi juga dapat berdampak pada lingkungan sosial dan keluarga. Ia menekankan pentingnya kesadaran dan intervensi profesional dalam menangani kasus-kasus hording disorder untuk mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....