Mengenal Holiday Blues dan Cara Menghadapinya

  • 22 Jul 2026 08:52 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Holiday blues adalah kondisi emosional di mana seseorang merasa sedih, cemas, atau kehilangan semangat meskipun sedang berada dalam suasana liburan yang seharusnya menyenangkan.
  • Penyebab holiday blues beragam, termasuk ketakutan akan pertanyaan keluarga, kehilangan orang terdekat, keterbatasan biaya, dan riwayat gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang lebih rentan mengalaminya.
  • Kondisi ini menunjukkan bahwa liburan tidak selalu menjadi momen bahagia bagi semua orang, sehingga penting untuk mengenali dan memahami perasaan negatif yang mungkin muncul selama periode liburan.

RRI.CO.ID, Serang – Liburan sering kali menjadi momen yang dinantikan untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau menikmati waktu bersama orang terdekat. Namun, di balik suasana yang identik dengan kebahagiaan tersebut, tidak sedikit orang justru merasa sedih, cemas atau kehilangan semangat sehingga sulit menikmati masa liburan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai holiday blues, yaitu kondisi emosional yang membuat seseorang merasa kurang bahagia meski sedang berada dalam suasana liburan. Seringkali terjadi karena beragam faktor seperti takut akan pertanyaan keluarga saat berkumpul bersama, kehilangan orang terdekat, keterbatasan biaya, maupun pernah mengalami gangguan kesehatan mental sehingga lebih rentan mengalaminya.

Seorang Psikolog asal Kota Serang, Lian mengatakan, holiday blues dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan sosial, kelelahan, masalah keuangan, hingga harapan yang terlalu tinggi terhadap momen liburan. "Liburan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan bagi semua orang karena tiap individu punya kondisi emosional, pengalaman, dan tekanan hidup yang berbeda," ujarnya kepada RRI pada Selasa, 21 Juli 2026.

Selain itu, tekanan untuk selalu terlihat bahagia juga dapat memperburuk kondisi tersebut, terutama saat sering membandingkan dirinya dengan unggahan orang lain di media sosial. Padahal, setiap orang memiliki cara, kemampuan dan kondisi yang berbeda dalam menikmati waktu liburan sehingga tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar kebahagiaan orang lain.

Kondisi holiday blues biasanya ditandai dengan suasana hati yang mudah berubah, merasa kosong, sulit menikmati aktivitas, hingga kehilangan motivasi selama masa liburan. Sebagian orang juga dapat mengalami sulit tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau merasa cemas ketika harus kembali menjalani rutinitas setelah liburan berakhir.

Tak hanya itu, seseorang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental juga perlu lebih memperhatikan kondisi emosinya selama masa liburan. Hal tersebut karena holiday blues justru dapat memperburuk gangguan kesehatan mental yang telah dialami sehingga kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele.

Meski umumnya hanya berlangsung sementara, holiday blues tetap perlu dikenali agar tidak mengganggu kesehatan mental maupun aktivitas sehari-hari. Dengan memahami penyebab dan gejalanya sejak awal, seseorang dapat lebih mudah mengambil langkah untuk mengelola kondisi tersebut.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghadapinya adalah menjaga ekspektasi agar tetap realistis terhadap rencana liburan. Liburan yang sederhana tetap dapat memberikan manfaat selama mampu menjadi waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi, bukan sekadar memenuhi keinginan tertentu.

Di samping itu, menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi, tetap berolahraga ringan, serta meluangkan waktu bersama keluarga atau sahabat juga dapat membantu menjaga suasana hati tetap stabil. Apabila merasa tidak nyaman menghadiri suatu kegiatan saat liburan saat liburan, tidak ada salahnya menolak ajakan dengan cara yang baik dan memilih waktu untuk beristirahat.

Apabila perasaan sedih, cemas atau kehilangan semangat masih dirasakan setelah masa liburan berakhir hingga mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, segeralah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan sejak dini dapat membantu menemukan penyebabnya sekaligus mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....