Kesehatan Mental Tak Terlihat, Dukungan Lingkungan Perlu Diperkuat

  • 11 Mar 2026 20:26 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang – Perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja dinilai perlu terus diperkuat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menyampaikan, masalah kesehatan mental pada remaja memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Dukungan lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat dinilai sangat berperan dalam membantu anak dan remaja menghadapi tekanan psikologis.

Kemenkes pada tahun 2026 mencatat, terdapat empat kasus bunuh diri anak usia 11 hingga 14 tahun yang terjadi di beberapa daerah, seperti NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Selain itu, hasil skrining awal dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, sekitar 7 juta anak dari target 25 juta anak menunjukkan hampir 10 persen memiliki indikasi gangguan kesehatan mental yang sebelumnya tidak terdeteksi.

“Dari jumlah tersebut, sekitar 4,4 persen mengalami gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi”, ujarnya seperti yang dikutip RRI, Rabu, 11 Maret 2026.

Menkes juga mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja perlu mendapat perhatian lebih luas. “Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali”, ujarnya.

Data Global School-based Student Health Survey antara 2015–2023 juga menunjukkan adanya peningkatan atas pemikiran bunuh diri pada remaja. Remaja yang berpikir bunuh diri meningkat dari 5,4 persen ke 8,5 persen. Sementara remaja yang mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental bukanlah persoalan kecil, namun sebagai alarm dini. Terkadang, dalam kehidupan sosial tidak sepenuhnya dipahami. Kondisi seperti itu sering dianggap ringan atau bahkan dijadikan bahan candaan dalam percakapan sehari-hari.

Di lingkungan sekolah, persoalan emosional pada remaja juga kerap muncul dalam berbagai situasi. Seorang guru tingkat SMP, Adibah Ms, mengatakan masa remaja merupakan fase perkembangan emosi yang masih sangat dinamis.

Menurutnya, dalam beberapa kondisi siswa dapat menunjukkan reaksi emosional ketika menghadapi tekanan akademik, misalnya ketika hasil belajar tidak sesuai dengan harapan mereka.

“Anak sebenarnya boleh mengekspresikan emosinya, entah marah, sedih, atau kecewa. Namun mereka juga perlu belajar bagaimana mengelola emosi tersebut dengan tepat,” ujarnya.

Ia menilai tekanan yang dirasakan remaja tidak selalu berasal dari satu faktor saja. Lingkungan pergaulan, ekspektasi akademik, serta penggunaan media sosial juga dapat memengaruhi kondisi emosional mereka.

Selain lingkungan sekolah, komunitas masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendampingi remaja. Penggiat Literasi Baca anak dan remaja, Dwi, menyampaikan bahwa masa remaja merupakan pencarian jati diri yang sering kali diiringi tantangan emosional.

Menurutnya, tidak sedikit remaja lebih memilih memendam masalah karena takut mendapat stigma negatif oleh lingkungan sekitarnya.

“Sering kali mereka terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Mereka takut bercerita karena khawatir dianggap lemah atau dihakimi,” ujarnya.

Ia juga menilai empati dari orang dewasa sangat penting agar anak merasa aman untuk berbagi cerita.

“Kita tidak bisa langsung memaksa mereka masuk ke dunia kita. Justru orang dewasa perlu lebih dulu memahami dunia mereka, memberikan apresiasi kecil, dan membangun rasa percaya,” ucap Menkes.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan kesehatan mental memiliki korelasi erat dengan perkembangan kepercayaan diri pada remaja. Penelitian yang dipublikasikan oleh Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 2024 menyebutkan bahwa kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi dapat mempengaruhi rasa percaya diri remaja serta berdampak pada prestasi akademik dan hubungan sosial mereka.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa stigma sosial terhadap masalah kesehatan mental membuat remaja merasa malu dan rendah diri, serta enggan untuk mencari bantuan profesional.

Sehingga, dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting bagi remaja untuk membantu remaja menghadapi tekanan psikologis serta membangun kembali kepercayaan diri mereka.

Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental diharapkan terus meningkat, terutama di lingkungan terdekat anak dan remaja, sehingga mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, terbuka, dan saling mendukung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....