Kasus Campak Pandeglang Tembus 667 Suspek

  • 26 Apr 2026 17:31 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang mencatat kasus suspek campak di Pandeglang mencapai 667 temuan. Jumlah ini merupakan hasil pendataan Dinkes hingga minggu ke-13 tahun 2026.

Tren peningkatan ini mulai terlihat signifikan sejak minggu ke-7 atau pada bulan Februari sebelum akhirnya perlahan menunjukkan kurva penurunan. Meskipun jumlah laporan tergolong tinggi, status ratusan kasus tersebut dikategorikan sebagai campak klinis berdasarkan gejala fisik pasien.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pandeglang, Dian Handayani menyebut, sebaran kasus campak tertinggi terdeteksi di Kecamatan Labuan, disusul Pandeglang, Kaduhejo, Jiput, Banjar, hingga Menes dan Karangtanjung. Tingginya angka laporan di wilayah tersebut dipengaruhi pula oleh kesigapan petugas surveilans di lapangan dalam mendeteksi serta melaporkan temuan gejala pada masyarakat.

"Sampai dengan minggu ke-13, tercatat 667 kasus campak sekabupaten Pandeglang. Ini sebetulnya mulai meninggi itu di minggu ke-7 di bulan Februari dan sekarang sudah mulai menurun kembali," ujar Dian, Minggu 26 April 2026.

Fenomena peningkatan kasus ini dinilainya berkaitan erat dengan siklus lima tahunan akibat akumulasi populasi rentan yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Penumpukan kelompok yang tidak memiliki kekebalan tubuh ini memicu hilangnya herd immunity atau kekebalan kelompok di beberapa titik wilayah. Tanpa perlindungan vaksin menyeluruh, virus campak sangat mudah menyebar luas ketika menjangkit individu dalam komunitas dengan cakupan imunisasi rendah.

Dian mengatakan, kondisi campak saat ini menunjukkan perubahan karakteristik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya bersifat sembuh dengan sendirinya. Menurutnya saat ini, mayoritas pasien justru mengalami komplikasi kesehatan tambahan yang memperberat kondisi fisik penderita.

Dinkes Pandeglang mencatat sekitar 84 persen atau 563 penderita dari total kasus harus menjalani perawatan di rumah sakit dan puskesmas. Dan hanya 16 persen atau 95 kasus sisanya tercatat tidak membutuhkan perawatan inap khusus.

"Dari 667 kasus, sebanyak 563 kasusnya atau 84 persen penderita campak membutuhkan perawatan di rumah sakit dan puskesmas. Ini terlihat bahwa kasus campak ini tidak main-main," katanya.

Dinkes pun terus melakukan upaya penekanan penyebaran lewat penyelidikan epidemiologi di setiap titik temuan kasus. Petugas puskesmas dikatakan Dian telah diterjunkan langsung melakukan pelacakan guna memutus rantai penularan di lingkungan tempat tinggal pasien.

Ia pun menghimbau masyarakat untuk segera melengkapi status imunisasi anak sebagai satu-satunya cara pencegahan paling efektif. Kesadaran orang tua membawa anak ke fasilitas kesehatan dinilai Dian menjadi kunci utama mengendalikan penyebaran penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....