Waspada Bahaya Komplikasi Campak Bagi Anak

  • 26 Apr 2026 17:34 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Karakteristik penyakit campak di Kabupaten Pandeglang mengalami pergeseran risiko dengan tingginya angka komplikasi pada pasien anak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang mencatat mayoritas penderita kini membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit akibat penyakit penyerta yang muncul saat terinfeksi virus tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pandeglang, Dian Handayani menyebut, 84 persen penderita campak saat ini harus menjalani rawat inap. Dari total 667 kasus suspek yang didata Dinkes, sebanyak 563 orang membutuhkan penanganan di fasilitas kesehatan dan hanya 16 persen yang dapat menjalani pemulihan mandiri.

"Dari 667 kasus, sebanyak 563 atau 84 persen penderita membutuhkan perawatan. Ini terlihat bahwa kasus campak tidak main-main dan satu-satunya cara mencegah adalah imunisasi," katanya, Minggu 26 April 2026.

Lonjakan pasien campak pada bulan Februari lalu dikatakan Dian sempat mengakibatkan keterbatasan ruang isolasi di beberapa rumah sakit wilayah Pandeglang. Komplikasi yang menyertai kasus campak disebutnya menjadi alasan utama mengapa pasien tidak bisa sekadar menjalani pengobatan jalan. Kenaikan tren ini menjadi peringatan bagi orang tua agar tidak menyepelekan gejala demam dan ruam merah yang muncul pada anak, terutama yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Ia pun menghimbau kepada masyarakat untuk tetap mengutamakan pencegahan melalui imunisasi dasar lengkap dan imunisasi tambahan yang disediakan pemerintah. Menurutnya campak bukan lagi sekadar demam biasa, melainkan ancaman nyata yang dapat berujung pada perawatan medis serius jika tidak dicegah sedini mungkin.

"Dulu campak hanya demam kemudian timbul ruam merah dan selesai, tapi sekarang kebanyakan komplikasi sehingga butuh perawatan serius di rumah sakit," ujar Dian.

Menurut Dian, Kementerian Kesehatan juga kini telah mengaktifkan kembali kesiapan pengujian laboratorium untuk memastikan diagnosis pasti terhadap sampel campak dari daerah. Langkah ini dinilai Dian krusial untuk membedakan campak klinis dengan penyakit serupa lainnya sehingga penanganan medis bisa lebih tepat sasaran. Akurasi data laboratorium ini diharapkannya dapat memperkuat strategi penanganan penyakit menular di tingkat kabupaten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....