Trauma Psikologis, Ketika Tubuh Bereaksi Tanpa Disadari
- 25 Jan 2026 20:28 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Tidak semua luka terlihat, dan tidak semua trauma lahir dari peristiwa besar yang mengancam nyawa. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasakan reaksi emosional berlebihan tanpa benar-benar memahami dari mana asalnya.
Padahal, trauma psikologis sering kali muncul bukan dari apa yang sedang terjadi, melainkan dari pengalaman masa lalu yang belum selesai. Ketika ingatan tersebut tersentuh oleh situasi tertentu, tubuh dapat bereaksi meskipun kondisi di hadapan sebenarnya netral.
Baca juga: Dampak Marah Berlebihan pada Psikologi Anak
Seorang Psikiater, Jiemi Ardian menjelaskan, trauma berkaitan dengan pengalaman yang telah berlalu.
“Trauma itu terjadi akibat suatu peristiwa yang sudah lewat, dan ketika diingat atau dipicu, tubuh akan bereaksi,” ujarnya dalam Siniar Youtube Raditya Dika “Supaya Sembuh Dari Trauma” yang dikutip RRI pada Senin, 26 Januari 2026.
Reaksi tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari keinginan menyerang, menghindar, hingga membeku dan tidak mampu merespons. Menurutnya, respons inilah yang sering menjadi petunjuk awal bahwa seseorang mungkin menyimpan trauma.
Baca juga: Manfaat Libur Sekolah untuk Kesehatan Psikologis Anak
Trauma juga tidak selalu berskala besar. Ada trauma yang muncul tanpa ancaman fisik, seperti pengalaman ditinggalkan, kehilangan, atau perasaan tidak aman yang berulang. Kondisi ini kerap disebut trauma kecil, namun dampaknya tetap nyata bagi individu.
Menariknya, berat atau ringannya trauma tidak ditentukan oleh peristiwa yang dialami, melainkan oleh reaksi yang muncul setelahnya. Ada orang yang mengalami kejadian besar namun pulih dengan baik, sementara yang lain bereaksi kuat terhadap pengalaman yang tampak sederhana.
Jiemi menegaskan, tidak semua trauma harus ditangani oleh psikiater. “Sebagian besar orang bisa pulih dengan sendirinya, tetapi jika upaya menenangkan diri selalu gagal, bantuan profesional perlu dipertimbangkan,” katanya.
Baca juga: Cara Tangani Anak yang Mudah Marah Menurut Psikologi
Oleh karena itu, mengenali perbedaan antara rasa terancam nyata dan reaksi yang dipicu kenangan masa lalu menjadi langkah penting. Kesadaran ini membantu seseorang memahami dirinya tanpa langsung menyalahkan keadaan.
Dengan pemahaman yang lebih jernih, trauma tidak lagi menjadi label menakutkan, melainkan sinyal tubuh yang perlu didengarkan. Dari sanalah proses pemulihan dapat dimulai, secara perlahan dan manusiawi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....