Era AI, Penyiaran Terancam atau Diuntungkan

  • 03 Apr 2026 06:37 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Perkembangan Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) di dunia penyiaran dinilai membawa dua sisi yang seimbang, antara peluang dan ancaman. Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Mohamad Reza menegaskan, kehadiran AI tidak bisa dihindari dan harus direspons dengan sikap adaptif oleh lembaga penyiaran.

Menurut Reza, AI pada dasarnya merupakan teknologi yang netral dan bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya.

“Namanya teknologi itu tidak bisa kita hindari. Dia alat, bisa digunakan untuk hal positif, tapi juga bisa untuk hal negatif,” ujarnya, Kamis, 2 April 2026.

Dalam konteks industri penyiaran, Reza menyebut posisi AI berada pada titik seimbang. “Kalau saya bilang 50:50. Untuk lembaga penyiaran yang tidak mau shifting ke digital, ini ancaman. Tapi untuk yang mau memanfaatkan teknologi ini dengan baik, justru akan mendapatkan keuntungan,” katanya.

Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa perubahan perilaku audiens juga mendorong lembaga penyiaran untuk beradaptasi. Konsumsi media yang kini banyak beralih ke platform digital membuat pendekatan konvensional tidak lagi cukup.

KPI Pusat sendiri telah mengeluarkan surat edaran terkait penggunaan AI di lembaga penyiaran. Salah satu poin penting adalah kewajiban transparansi kepada publik.

“Penggunaan AI boleh saja, tapi harus disampaikan. Misalnya program siaran dibantu AI, ya sampaikan saja. Itu bentuk keterbukaan,” kata Reza.

Reza menekankan, AI seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti manusia sepenuhnya. Ia berharap ke depan, pemanfaatan AI justru mendorong lahirnya program siaran yang lebih inovatif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....