Generasi Muda Didorong Cintai Museum dan Sejarah

  • 13 Okt 2025 10:44 WIB
  •  Banten

KBRN, Cilegon:  Peringatan Hari Museum Nasional yang jatuh setiap tanggal 12 Oktober menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah dan kebudayaan bangsa. Ketua Bidang Warisan Kebendaan Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Saiful Iskandar, menilai museum memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik, tempat masyarakat belajar memahami perjalanan panjang peradaban bangsa Indonesia.

Menurut Saiful, museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda-benda kuno, tetapi juga cermin jati diri bangsa. Melalui koleksi dan narasi sejarah yang tersimpan di dalamnya, museum dapat menjadi sarana refleksi bagi generasi muda untuk mengenali akar budaya dan menghargai nilai perjuangan pendahulunya. “Orang-orang itu dapat datang ke museum bukan hanya sekedar melihat tontonan saja tapi ada refleksi diri bagaimana mereka juga harus belajar banyak daripada peninggalan-peninggalan yang ada di sini bukan kita melihat bendanya tapi kita melihat pelajaran penting di dalamnya,” ujarnya dalam program Dialog Pagi RRI Pro 1 Banten, Senin (13/10/2025).

Ia menilai kesadaran terhadap pentingnya museum di kalangan anak muda masih rendah. Banyak pelajar dan mahasiswa yang menganggap kunjungan ke museum membosankan karena hanya melihat benda-benda yang sama tanpa aktivitas yang menarik. Padahal, museum seharusnya dapat dikemas secara kreatif agar menjadi wahana rekreasi edukatif yang menyenangkan.

Saiful mencontohkan sejumlah inisiatif yang pernah dilakukan untuk menarik minat generasi muda, seperti kegiatan “Weekend at Museum” di Kota Serang dan Cilegon. Melalui kegiatan tersebut, pengunjung diajak berkeliling tempat-tempat bersejarah sambil mengenal kebudayaan lokal. “Kegiatan seperti ini mengajak teman-teman yang memang memiliki nilai kerinduan, kecintaan terhadap sejarah untuk berjalan-jalan bersama mengelilingi tempat-tempat bersejarah yang ada di wilayah Kota Serang Selatan,” ujarnya.

Namun, upaya memperkuat literasi sejarah ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan media massa dalam memperkenalkan museum sebagai pusat pembelajaran kebangsaan. Menurutnya, dukungan dari semua pihak diperlukan agar program edukasi sejarah tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi berkelanjutan dan berdampak nyata.

Selain inovasi program, Saiful juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola museum. Pemandu atau guide museum, kata dia, perlu memiliki kemampuan komunikasi yang menarik dan sesuai dengan karakter audiens. “Ketika yang datang anak sekolah, penyampaian harus dengan gaya yang menyenangkan agar mereka betah dan mau mendengarkan,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menunggu pemerintah dalam melestarikan warisan budaya. Komunitas, sekolah, dan keluarga dapat menjadi agen pelestari nilai sejarah melalui kegiatan sederhana seperti lomba sejarah lokal, pameran mini di sekolah, atau tur edukasi ke situs-situs budaya. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang terlibat, semakin kuat pula kesadaran kolektif untuk menjaga warisan leluhur.

“Saya menginginkan kepada masyarakat yang ada di Kota Cilegon mari bersama menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Kemudian masyarakat sadar juga akan pentingnya warisan kebendaan, dan juga harus lebih aktif, lebih antusias. Untuk pemerintah agar dapat memperkuat komitmen kolaborasi lintas OPD," ujarnya. 

Peringatan Hari Museum Nasional tahun ini diharapkan menjadi momen reflektif bagi masyarakat Banten, khususnya generasi muda, untuk kembali mencintai sejarah, budaya, dan warisan bangsanya. (Trixie Sondang)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....