Ilma Fadhilah Bangkit dari Kegagalan Lewat Taekwondo

  • 24 Agt 2026 15:31 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang – Kegagalan menjadi bagian dari perjalanan atlet taekwondo Ilma Fadhilah dalam mengejar prestasi. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika dirinya duduk di kelas 10 SMA dan harus menghadapi kenyataan bahwa target yang telah dipersiapkan melalui taekwondo belum dapat diraih.

Saat itu, Ilma menargetkan dapat menjadi juara dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah atau POPDA. Target tersebut berkaitan dengan keinginannya untuk melanjutkan pembinaan sebagai atlet melalui lembaga olahraga yang diincarnya.

Ilma mengaku telah menggantungkan harapan besar pada kesempatan tersebut. Namun, keinginannya belum dapat terwujud karena terdapat persyaratan usia yang tidak sesuai dengan usianya ketika hendak mendaftar.

“Waktu aku kelas 10 SMA, waktu itu aku habis main POPDA. Dari situ aku nargetin emang harus juara satu karena tujuanku PPLT,” kata Ilma saat diwawancarai dalam program Banten Menyapa bersama RRI Pro 1 Banten, Jumat, 21 Agustus 2026.

Ilma menjelaskan, dirinya sebelumnya berharap dapat masuk pusat pembinaan atlet yang menjadi salah satu targetnya. Namun, persyaratan usia membuat kesempatan tersebut belum dapat diraih sehingga menjadi pengalaman yang cukup berat secara emosional.

“Persyaratannya itu harus yang umurnya lebih muda dari aku, which is itu 2007. Sedangkan waktu itu aku 2005. Aku lewat jauh,” ujarnya.

Kondisi tersebut sempat membuat Ilma merasa sangat kecewa karena dirinya telah mempersiapkan diri dan menggantungkan harapan pada taekwondo. Meski demikian, dukungan dari teman dan pelatih membuatnya perlahan kembali membangun motivasi untuk melanjutkan perjalanan sebagai atlet.

“Yang bikin aku bangkit lagi karena motivasi dan dorongan dari teman-teman aku, dari pelatih aku. Kayak, ya udah, belum rezekinya,” ucapnya.

Dukungan tersebut kemudian dibuktikan dengan kesempatan Ilma mengikuti ajang lain dan berada dalam lingkungan atlet yang sebelumnya ia bayangkan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya terjadi ketika dirinya dapat berangkat bersama kontingen dan merasakan atmosfer pembinaan atlet.

“Akhirnya itu terbukti dengan berangkatnya aku ke Sumatera Selatan. Orang PPLT dengan atlet PPLT itu latihannya bareng. Aku sempat merasakan itu. Oh, gini rasanya jadi orang PPLT,” katanya.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bagi Ilma bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir dari perjalanan. Ia justru mendapatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman baru dan membuktikan bahwa proses latihan yang selama ini dijalaninya mampu membawanya ke tingkat kompetisi yang lebih tinggi.

Dalam menghadapi tekanan pertandingan, Ilma juga memiliki cara tersendiri untuk menjaga kondisi mental. Selain mendapat pembentukan mental dari pelatih sejak kecil, ia memilih melakukan zikir untuk membantu mengendalikan rasa takut ketika menghadapi lawan.

“Kalau dari aku sendiri untuk kendaliin ketakutan itu ya aku zikir sih. Itu ngaruh banget,” ujarnya.

Ilma juga terus melakukan evaluasi setelah pertandingan dengan melihat kembali rekaman pertandingannya. Menurutnya, evaluasi tersebut membantu mengetahui apakah kekurangan berasal dari aspek fisik maupun mental.

“Kalau misalnya emang kurangnya di fisik kelihatan dari seberapa sering aku jatuh pada saat pertandingan. Kalau misalnya kekurangannya di mental, berarti yang harus dievaluasi itu dari diri aku,” katanya.

Kini, Ilma memilih untuk terus menjalani proses sambil menyelesaikan pendidikan. Ia berpesan kepada atlet muda agar tidak cepat puas dengan pencapaian yang telah diraih dan terus meningkatkan kemampuan.

“Jangan cepat menyerah, jangan cepat puas dengan hasil yang sudah didapatkan, terus berlatih. Kalau pengin jadi atlet, banyak juga atlet di luar sana yang pengin jadi juara,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....