Cara Ilma Fadhilah Bagi Waktu Kuliah dan Taekwondo

  • 21 Agt 2026 10:00 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang – Menjalani aktivitas sebagai atlet taekwondo sekaligus mahasiswi menjadi tantangan tersendiri bagi Ilma Fadhilah. Meski menempuh pendidikan jurusan Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang tidak berkaitan langsung dengan ilmu keolahragaan, Ilma tetap berupaya membagi waktu agar aktivitas akademik dan olahraga dapat berjalan beriringan.

Ilma mengatakan, kesibukan kuliah menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam mempertahankan aktivitasnya sebagai atlet. Terlebih saat ini dirinya telah memasuki semester akhir sehingga harus mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan akademik, termasuk persiapan skripsi.

“Enggak gampang ya, buat jadi atlet taekwondo terutama di umur aku yang sekarang ini aku sudah menginjak 21 tahun dan sudah punya banyak banget kesibukan terutama kuliah,” kata Ilma saat diwawancarai dalam program Banten Menyapa bersama RRI Pro 1 Banten, Jumat, 21 Agustus 2026.

Menurut Ilma, tantangan tersebut semakin terasa karena jurusan yang ditempuhnya tidak berhubungan dengan olahraga. Ia harus membagi perhatian antara menyelesaikan pendidikan dan tetap menjaga kemampuan sebagai atlet taekwondo yang telah ditekuni sejak sekolah dasar.

“Di sisi lain aku harus fokus ke kuliah aku yang jurusannya benar-benar enggak relevan sama hobi yang aku jalani, di sisi lain aku harus menjalani hobi yang satu ini. Tapi ya memang itu tantangannya untuk menjadi atlet, jadi harus tetap semangat,” ujarnya.

Untuk menjaga kebugaran dan kemampuan bertanding, Ilma mengaku tidak ingin benar-benar berhenti berlatih meskipun kesibukan kuliah membuatnya tidak selalu dapat mengikuti latihan di klub. Ia memilih memanfaatkan waktu luang dengan melakukan latihan mandiri di rumah.

“Kalau aku sendiri yang bagi latihannya karena sekarang udah semester tua, jadi aku benar-benar ngisi waktu latihannya itu di waktu-waktu yang kosong aja,” ucapnya.

Ilma menegaskan, pendidikan tetap menjadi prioritas yang tidak boleh dikesampingkan. Namun, ia tetap mempertahankan taekwondo sebagai bagian penting dalam kehidupannya dengan melakukan latihan ringan secara mandiri ketika tidak memiliki kesempatan berlatih bersama klub.

“Tentu kuliah ini enggak aku kesampingkan, tapi untuk taekwondo aku enggak mau yang sampai benar-benar off. Makanya aku agak dikit-dikit workout-lah walaupun belum seterusnya bisa ikut latihan di klub,” katanya.

Selain latihan fisik, Ilma juga melakukan evaluasi kemampuan berdasarkan rekaman pertandingan sebelumnya. Dari video tersebut, ia berusaha menemukan kekurangan, baik dari sisi fisik maupun mental, sehingga dapat menentukan bagian yang perlu diperbaiki.

Menurut Ilma, evaluasi mental menjadi bagian yang lebih sulit dibandingkan evaluasi fisik. Ia menilai kekurangan fisik dapat terlihat dari kondisi saat bertanding, sementara persoalan mental membutuhkan introspeksi lebih mendalam.

“Yang paling susah itu menurut aku mengevaluasi mental. Kalau fisik bisa, kalau mental itu dari kita sendiri,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....