Festival Aren Musang, Upaya Kembalikan Ekologis dan Kultural Masyarakat Cibaliung
- 08 Nov 2025 09:27 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Desa Budaya Cibaliung bersama Ekosistem Boeatan Tjibalioeng, akan menghadirkan Festival Aren Musang 2025, sebagai ruang perjumpaan antara tubuh, alam, dan kebudayaan yang tumbuh dari nira. Dengan tajuk “Menari Nira; tungtung pucuk, tungtung akar, talaga ngembeng”, festival ini diselenggarakan di Kampung Gula, Babakan Sabrang, Desa Cibaliung, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang, Banten pada 22-23 November 2025 mendatang.
Festival Aren Musang ini membawa semangat mengembalikan nilai-nilai ekologis dan kultural masyarakat Cibaliung yang mulai tergerus oleh modernisasi. Festival ini akan menegaskan kembali bahwa kebudayaan tidak hanya dipelihara melalui ingatan, tetapi juga melalui praktik hidup yang terus bergerak bersama alam.
"Dalam konteks ekologis masyarakat Cibaliung, pohon aren dan musang menjadi simbol kehidupan sekaligus bagian dari sistem pengetahuan yang saling menopang. Musang berperan sebagai penjaga keseimbangan alam: ia menanam kembali buah terbaik yang dimakannya, memastikan regenerasi pohon aren terus berlangsung," kata Pendamping Kebudayaan Desa Cibaliung sekaligus Inisiator Festival, Rizal Mahfud, Sabtu (8/11/2025).
Baca juga: Lokakarya Musik Bambu Boeatan Tjibalioeng Hasilkan Lima Lagu
"Dari proses alamiah itu, manusia belajar tentang keberlanjutan—bahwa kelestarian tidak lahir dari dominasi, melainkan dari hubungan yang setara dan saling menghidupi," ucap Rizal.
Namun, kata dia, di tengah kesadaran ekologis itu, masyarakat Cibaliung kini dihadapkan pada sejumlah tantangan nyata. Di beberapa wilayah, perburuan musang masih terjadi, menyebabkan terganggunya keseimbangan regenerasi pohon aren di hutan. Kebiasaan menanam pohon kawao—jenis tanaman penting yang digunakan dalam proses pengolahan nira juga kian ditinggalkan, padahal hasilnya dibutuhkan hampir setiap hari.
"Di sisi lain, tradisi lisan seperti kidung ngayun aren yang dahulu bergema di atas pohon-pohon aren, kini bunyinya kian menyepi, dan pengetahuan tradisional tentang teknik serta filosofi pembuatan gula aren perlahan memudar di kalangan generasi muda," ujarnya.
Baca juga: Lokakarya Kuliner Bambu Boeatan Tjibalioeng Hasilkan 10 Menu Autentik
Melalui keresahan itu, Festival Aren Musang tidak sekadar hadir sebagai bentuk perayaan, tetapi juga sebagai respons terhadap krisis ekologi dan pengetahuan yang sedang berlangsung.
"Festival ini menawarkan alternatif cara pandang bahwa keberlanjutan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari keberlanjutan ekosistem yang melahirkannya. Ia menjadi ruang hidup bersama tempat masyarakat, seniman, dan peneliti berkolaborasi membangun pengetahuan baru yang berpijak pada kearifan lokal," kata Rizal.
Dia menerangkan, tajuk “Menari Nira” meminjam gerak tubuh para penyadap yang setiap hari menempuh ritus pengolahan gula aren. Gerak mengaduk nira, menakar panas, dan mengolah rasa menjadi simbol kesetiaan terhadap alam. Ia bukan sekadar kerja, melainkan tarian yang menyatukan tubuh dengan ritme bumi.
Baca juga: Anyaman Pandan, Warisan Budaya Banjar Pandeglang
"Bagian pucuk pohon adalah rumah bagi musang, bagian akar menjaga sumber air, dan batangnya menjadi penopang kehidupan. Maka, “tungtung pucuk, tungtung akar, talaga ngembeng” menjadi penanda kesadaran ekologis yang hidup dalam bahasa keseharian warga," tututnya.
Festival ini menampilkan serangkaian kegiatan yang merekam denyut kebudayaan dari hulu hingga hilir: Jelajah Budaya Jejak Aren Musang, Konser Suara Desa, Ruwat Rawat Musang, Pertunjukan Wayang Daun Aren, Menari Nira, Studi Sudut Desa: Sastra Lisan Aren, hingga Residen Seniman dan Pameran Hasil Residen. Ada pula Lomba Kreasi Kuliner Aren, Screening Film Kawung Cibaliung, dan Peluncuran lagu “Bujang Sadap” sebagai ekspresi kontemporer dari warisan tradisi.
Baca juga: Desa Curug, Cibaliung Ditargetkan Keluar dari Kategori Tertinggal Tahun Ini
Festival ini menjadi ruang perenungan dan tindakan, tempat di mana manusia, hewan, dan pohon saling menyapa dalam kesadaran yang sama: menjaga bumi berarti menjaga kehidupan. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian ekologi musang di Desa Cibaliung.
"Menjadi ruang promosi yang lebih luas bagi produk unggulan baru Aren Musang Cibaliung yang mendukung pengembangan komoditas hasil bumi di Kabupaten Pandeglang, serta menjadi perayaan yang berkelanjutan dan berakar pada kesadaran ekologis yang hidup," kata pria yang juga aktif sebagai pesuling di grup musik Beranda Rumah ini.
Festival Aren Musang ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, melalui program Pemajuan Kebudayaan Desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....