Anyaman Pandan, Warisan Budaya Banjar Pandeglang
- 18 Agt 2025 15:42 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Anyaman pandan sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Pandeglang, khususnya di Kecamatan Banjar. Hingga kini, kesenian tersebut masih dipertahankan oleh para pengrajin, salah satunya melalui kelompok usaha bersama Pandan Craft Banten yang berlokasi di Desa Kadulimus, Kecamatan Banjar.
Pemilik Pandan Scrap Banten, Hadi mengatakan, usaha ini telah berjalan sejak 2007 dan melibatkan ratusan ibu-ibu pengrajin di 7 desa yang tersebar di Kecamatan Banjar.
Baca juga: UMKM Desa Bandung Mejeng di Gebrak Ngadu Bedug
Produk anyaman pandan yang dihasilkan pun semakin beragam. Dari yang awalnya cuma kerajinan tradisional berupa tikar jenazah dan sajadah, kini berkembang menjadi lebih dari 50 variasi produk, termasuk tas kanderon, topi, tempat tisu, hingga aneka kerajinan lainnya.
“Dulu hanya sebatas tikar, tapi sekarang sudah banyak diversifikasi. Bahkan produk kami sudah sampai pasar nasional dan ekspor ke Asia Tenggara serta Italia,” katanya, Senin (18/08/2025).
Baca juga: Kopi Puhu, Produk BUMDes Bandung Dipasarkan Dalam Bentuk Ekonomis
Produk anyaman pandan ini dipasarkan Hadi secara offline dan online melalui berbagai kerjasama baik dengan instansi pemerintah, pusat oleh-oleh, serta secara melalui marketplace. Harga produk pun bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp300.000, tergantung jenis dan tingkat kerumitan pengerjaan.
Meski terus berkembang, menurutnya para pengrajin menghadapi kendala utama dalam hal ketersediaan bahan baku. Yang mana Pandan duri, sebagai bahan utama anyaman, semakin sulit ditemukan di Desa Kadulimus dan sekitarnya. Selain keterbatasan bahan baku, jumlah SDM penganyam juga mulai berkurang karena regenerasi yang tidak seimbang.
Baca juga: Perempuan dan Disabilitas Dilatih Membuat Kerajinan dari Kain Perca
Ia berharap kesenian anyaman pandan ini bisa terus dilestarikan, bukan hanya sebagai tradisi budaya, tetapi juga sebagai penopang ekonomi masyarakat.
“Harapan kami, kesenian anyaman pandan bisa terus dilestarikan, bukan hanya sebagai tradisi budaya, tetapi juga sebagai penopang ekonomi masyarakat. Dukungan pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan agar UMKM ini tetap bertahan,” ucap Hadi. (Ridwan Maulana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....