Panen Raya, Warga Teluk Lada Pandeglang Gelar Mapag Sri
- 13 Apr 2024 11:36 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Warga Desa Teluk Lada, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, melakukan ritual Mapag Sri sebagai ungkapan rasa Syukur atas hasil panen raya padi yang ditunai.
Tradisi ini merupakan budaya turun temurun yang masih dilestarikan oleh warga Teluk Lada. Ritual Budaya Mapag Sri, masuk ke Pandeglang dibawa oleh para transmigran asal Indramayu yang bermukim sebagian besar wilayah Panimbang-Sobang sekitaran tahun 60-an.
Baca juga:
Tradisi Adang Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Mapag Sri apabila ditilik dari bahasa Jawa halus mengandung arti menjemput padi. Dalam bahasa Jawa halus, mapag berarti menjemput, sedangkan sri dimaksudkan sebagai padi. Maksud dari menjemput padi adalah panen.
Mapag Sri dilaksanakan dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur petani kepada Tuhan Yang Maha Esa karena panen yang diharapkan telah tiba dengan hasil yang memuaskan.

Dalam sesi acara Mapag Sri, seluruh warga diwajibkan membawa tumpeng, ketupat dan lepet dengan berpakaian adat. Kemudian dikumpulkan disebuah lahan untuk melakukan doa syukuran dan makan bersama.
Baca juga:
Kelas Gamelan Sunda, Upaya PCH Lestarikan Seni Musik Tradisional
Sebelum era tahun 2000-an Mapag Sri berlangsung ramai karena menghadirkan pertunjukan ruat wayang kulit sehari semalam. Namun kini digelar lebih sederhana dengan hanya membawa tumpeng, kupat dan lepet dan dilakukan doa bersama oleh tokoh agama serta dihadiri Kepala Desa.

Ketua RW Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Taryana mengatakan, upacara adat Mapag Sri adalah menjaga spirit bertani dan mencintai alam semesta. Perasaan rasa syukur atas karunia tuhan memberikan keberkahan atas setiap benih padi yang ditanam.
"Semoga tahun tahun berikutnya, acara adat Mapag Sri ini bisa lebih meriah seperti dulu dengan menggelar pentas kesenian dan bisa menjadi wisata budaya bagi Pandeglang," ujarnya.
Baca juga:
Swara Jalawara Hawara, Pertunjukan Musik dari Tradisi Huma
Sementara Kepala Desa Teluk Lada, Efendi Hidayat bersyukur masyarakatnya masih mempertahankan tradisi leluhur Mapag Sri dalam menyambut musim panen padi.
“Meski seringkali disaat musim tanam dihadapkan kesulitan pupuk, mahalnya harga obat-obatan, bahkan panen kali ini dihadapkan pada serangan hama wereng dan harga padi yang belum berpihak pada petani, tapi tidak menjadikan kita berhenti menjadi petani dan terus berucap syukur atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT,” ujar dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....