Awing Pengamen Pasar Berjuang Demi Keluarga
- 14 Apr 2026 21:19 WIB
- Banten
Poin Utama
- Awing pengamen jalanan berjuang demi keluarga
- Selain mengamen Awing juga menawarkan jasa karaoke
- Mengamen di pasar Rangkasbitung
RRI.CO.ID,Lebak - Sinar mentari siang itu menyengat di atas bumi Multatuli. Meski waktu baru menunjukkan pukul 10.30 WIB, panas terasa begitu terik di kawasan Pasar Rangkasbitung. Namun, teriknya matahari seolah tak berpengaruh bagi Awing.
Pria berusia 48 tahun itu tetap bernyanyi dengan penuh semangat diiringi dentuman musik dari speaker besar miliknya di pintu keluar pasar. Lagu-lagu Sunda mengalun dari suaranya. Sesekali ia berjoget kecil, menghibur para pengunjung pasar yang lalu lalang. Sudah enam tahun Awing menekuni profesi sebagai pengamen jalanan.
Ia mengandalkan speaker bertenaga aki yang menjadi ciri khasnya saat mencari nafkah.
“Sudah enam tahun saya ngamen seperti ini, pakai speaker sendiri,” ujar Awing, Selasa, 14 April 2026.
Awalnya, ia hanya membantu rekannya sebagai pengumpul uang saweran saat mengamen di Jakarta. Dari situlah ia mulai tertarik dengan dunia musik jalanan.
Sepulang dari ibu kota, Awing yang belum memiliki pekerjaan tetap memutuskan untuk mencoba peruntungan sendiri. Dengan modal sekitar Rp10 juta, ia membeli gerobak dan perlengkapan sound system sederhana.
“Dulu cuma ikut teman di Jakarta, saya yang keliling ngambil uangnya. Setelah pulang, coba sendiri karena belum punya kerjaan,” katanya.
Penghasilan dari mengamen tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung kondisi. Meski begitu, perjalanan sebagai pengamen tidak selalu mulus. Penolakan dari orang-orang kerap ia alami saat mencoba mengamen.
“Kadang ada yang nolak, tapi ya saya jalani saja. Yang penting halal buat keluarga,” ucapnya.
Sebagai ayah dari lima anak, Awing memikul tanggung jawab besar. Ia tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga yang menantinya di rumah.
Tak hanya mengamen di pasar, Awing juga kerap diundang mengisi acara seperti ulang tahun, pernikahan, hingga sunatan. Bahkan kini ia telah menghafal ratusan lagu. “Saya ingin anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin, minimal sampai SMA. Biar nasibnya lebih baik dari saya,” tuturnya penuh harap.
Selain mengamen, ia juga menawarkan jasa karaoke dengan tarif Rp10 ribu per lagu. Setiap hari, ia mulai bekerja sejak usai salat subuh, berkeliling dari Pasar Semi hingga Pasar Rangkasbitung.
Meski profesinya kerap dipandang sebelah mata, Awing tetap teguh menjalani hidup. Ia berharap suatu hari nanti kondisi ekonomi keluarganya bisa lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....